::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Profesor Kato dari Jepang Teliti Islam Nusantara

Rabu, 07 Maret 2018 16:08 Nasional

Bagikan

Profesor Kato dari Jepang Teliti Islam Nusantara
Prof Kato memperhatikan Kiai Ishom yang menuliskan watak Islam Nusantara dalam bahasa Arab
Jakarta, NU Online
Seorang profesor dari Jepang, Hisanori Kato sedang melakukan penelitian Islam Nusantara yang tengah diusung NU. Untuk tujuan itu, ia mewawancara kiai-kiai NU dan akan mengikuti kuliah-kuliah di Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) konsentrasi Islam Nusantara. 

Pada Rabu (7/3) Kato mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Pojok Gus Dur, lantai dasar Gedung PBNU, Jakarta. Beberapa pertanyaan yang diajukan adalah pengertian, ajaran, watak, dan amaliyah Islam Nusantara. 

Tentang pengertian, Kiai Ishom menjelaskan, Islam Nusantara adalah Islam yang sebenarnya. Islam Nusantara beribadah, kiblat, kitab sucinya, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. 

Sementara, lanjut kiai kelahiran Lampung itu, menggunakan Nusantara mengacu kepada wilayah secara geografis Islam di Asia Tenggara yang memiliki karakter yang hampir mirip. Lebih dari itu, adalah istilah untuk memudahkan pemahaman bagi orang luar Nusantara. 

Watak Islam Nusantara, lanjut Kiai Ishom, adalah tawasuth (moderat), ta’adul (adil), tawazun (seimbang), dan tasyawur (bermusyawarah untuk mufakat).

Sementara amaliyah Islam Nusantara di antaranya adalah ziarah. Ziarah, menurut Kiai Ishom, bukan meminta ke kuburan, tapi kepada Allah langsung. Praktik ziarah dibolehkan oleh Nabi Muhammad SAW. 

Profesor dari Faculty of Policy Studies Chuo University itu mengatakan, penelitiannya itu akan disampaikan pada konferensi internasional di China tahun ini. Selain itu, akan dibukukan pula dalam bahasa Jepang. (Abdullah Alawi)