::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Hoaks Mudah Menyebar, Ini Penjelasan Savic Ali

Rabu, 07 Maret 2018 20:30 Nasional

Bagikan

Hoaks Mudah Menyebar, Ini Penjelasan Savic Ali
Savic Ali (kanan). Foto: Rozali
Jakarta, NU Online
Praktisi Media Muhammad Syafiq Alielha mengatakan saat ini penyebaran hoaks sangat mudah terjadi diantaranya melalui situs berita yang dibuat abal-abal. Portal abal-abal cenderung lebih banyak dibaca dibandingkan media resmi.

“Orang pada dasarnya membaca apa pun tanpa peduli sumbernya dari mana. Portal abal-abal ini kalau ditulis dengan meyakinkan bisa bombastis,” kata Savic Ali, panggilan akrabnya, pada Diskusi Memperkuat Media Mainstream dalam Melakukan Kontranarasi, Rabu (7/3) di Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Orang, lanjut Savic, saat membaca informasi tidak peduli narasumbernya siapa. Kalau di hadist tidak peduli perawinya siapa, seperti percaya pada hadist palsu. Hal itu karena peta sosial politik sedang terpolarisasi oleh adanya pertarungan politik. 

“Adanya peta politik tidak mampu membuat orang berpikir lebih jernih,” kata pria yang juga Direktur NU Online.

Beralihnya orang lebih membaca portal abal-abal juga karena kredibiltas media resmi yang menurun. 

“Bisa karena akurasinya yang kurang,” terang Savic. 

Selain itu adanya partisan (pengikut partai politik) menyebabkan pertarungan politik yang tinggi sehingga menyebabkan mereka mengambil posisi.

“Bersikap netral pun akan kelihatan ngeblok (memihak) ke arah mana,” kata dia. 

Adanya pertarungan sosial politik yang sulit akan menyebabkan media melakukan framing.

“Itu (framing) membuat orang yang tidak memihak tambah jengkel, sehingga kepercayaan orang kepada media resmi menurun,” urai Savic.

Namun demikian, dalam demokrasi yang stabil media idealnya masih bisa tampil serta berpihak pada kebenaran. (Kendi Setiawan)