NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Di UINSA Surabaya, Pelarangan Cadar Tidak Tertulis

Jumat, 09 Maret 2018 08:30 Daerah

Bagikan

Di UINSA Surabaya, Pelarangan Cadar Tidak Tertulis
Surabaya, NU Online
Kebijakan pelarangan cadar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dilakukan secara lisan. Sosialasi tersebut dilakukan oleh setiap dekan di fakultas yang ada sejak dua tahun silam.

“UINSA Surabaya sebagai lembaga pendidikan, tentu lebih mengedepankan kepada pelayanan prima,” kata Abd A’la, Kamis (8/3).  Karenanya harus ada komunikasi yang efektif antara sivitas akademika, antara dosen dan mahasiswa, juga antara mahasiswa dengan bagian-bagian lain, lanjut Rektor UINSA Surabaya tersebut. 

Kalau dalam praktiknya ditemukan hal yang menghambat layanan prima itu, tentu saja dilarang termasuk penggunaan cadar. “Karena itu hal-hal yang akan menghambat komunikasi, kita melarang. Mulai yang tegas sampai tidak,” kata guru besar UINSA Surabaya tersebut kepada sejumlah insan media. 

Dirinya kemudian mengambil contoh pengajaran dan pembelajaran bahasa yang mensyaratkan diketahuinya gerak mulut mahasiswa. Demikian pula layanan perpustakaan yang menuntut keakuratan. “Harus tahu siapa yang meminjam buku,” tandasnya. 

Oleh sebab itu, kepada seluruh pimpinan di fakultasnya agar hal ini menjadi perhatian. “Kita meminta kepada dekan, jangan sampai mengganggu komukasi yang efektif,” sergahnya.

Abd A’la juga beralasan bahwa seorang dosen harus mendoakan mahasiswanya. “Kalau saya akan mendoakan mahasiswa, bagaimana saya membayangkan wajah yang bersangkutan bila bercadar?” katanya.

Kendati para mahasiswi di kampusnya tidak diperkenankan mengenakan cadar, selama ini larangan tersebut tidak dilakukan secara tertulis, dan itu sudah sangat efektif. “Selama ini saya meminta kepada dekan (dengan cara lisan), dan cukup efektif. Kecuali kalau dirasa tidak efektif, mungkin akan kita lakukan pelarangan (secara tertulis). Tapi tidak perlu,” tandasnya.. 

Dirinya memberikan catatan, bahwa cadar jangan diidentikkan dengan radikalisme. “Kalau radikalisme, pemahaman keagamaan yang bertentangan dengan  nilai-nilai Pancasila, tentu kita larang keras. Dan (cadar) belum sampai kepada simplifikasi ke arah radikalisme. Kalaupun ada, maka akan ada pembinaan khusus,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi