NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perhatikanlah dari Mana Hartamu Diperoleh?

Jumat, 09 Maret 2018 19:45 Ekonomi Syariah

Bagikan

Perhatikanlah dari Mana Hartamu Diperoleh?
Ilustrasi (via money)
Allah menciptakan kita dari golongan manusia dan semua makhluk dari golongan jin adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya (QS Al-Dzariyat: 56). Ibadah merupakan pengakuan bahwa seorang insan hanyalah seorang hamba dari Dzat yang berhak untuk disembah. Karena ia hanya seorang hamba maka wajib thaat kepada yang dihambai, yakni Allah subhanahu wata’ala (QS Al-Nisa: 59). 

wujud ketaatan kita kepada Allah SWT? Secara umum jawabnya adalah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika kita tarik masalah ini dalam praktik fiqih muamalah, maka langkah ketaatan ini adalah dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, salah satunya menjauhi praktik muamalah yang dilarang. 

Sebuah keniscayaan, agar manusia memiliki kekuatan dalam melaksanakan ibadah, maka ia wajib bekerja untuk memperoleh pendapatan (QS al-Naba’: 11, QS Al-A’raf: 10, QS Jum’ah: 10, QS Al-Mulk: 15, QS Al-Muzammil: 20). Karena tugas manusia adalah mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala, maka pendapatan yang diperoleh dari hasil bekerja juga menghendaki pemfilterannya (imtinan) (QS Al-Baqarah: 168). Mana dari kesekian pendapatan yang diperoleh seorang hamba masuk kategori halal secara jelas, remeng-remeng (syubhat), atau haram. Pendapatan yang halal adalah pendapatan yang diperoleh dengan cara yang baik lagi diperbolehkan oleh syara’ (halâlan thayyiban).

Ibnu Katsir memaknai halâlan thayyiban ini sebagai:

فذكرذلكفي مقام الامتنان أنه أباح لهم أن يأكلوا مما في الأرض في حال كونه حلالا من الله طيبا ، أي : مستطابا في نفسه غير ضار للأبدان ولا للعقول

Artinya: “Allah menyebut [halaalan thayyiban secara bersamaan ini] dalam maqam imtinan [kehendak filter], bahwasanya sesungguhnya memakan rezeki dari hasil bumi adalah diperbolehkan (mubah) manakala rezeki tersebut adalah halal lagi “baik”. Maksud dari kalimat baik ini adalah baik untuk diri sendiri, tidak membahayakan badan serta aqal.” (Imam Ibnu Katsir, al-Yasiir fi Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Jedah, Daru al-Huda li al-Nasyr, 1426 H, Juz 2, halaman 182)

Shahabat ‘Iyadl bin Himar dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim berkata bahwasannya hikmah dari adanya perkara halal dan haram, adalah Allah hendak menguji hamba-Nya dari segi keteguhan agamanya. 

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: يقول الله تعالى: إن كل ما أمنحه عبادي فهو لهم حلال”فيه: وإني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم ، وحرمت عليهم ما أحللت لهم

Artinya: “Dari Rasulillah SAW sesungguhnya beliau bersabda: Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya segala apa yang Aku anugerahkan kepada hambaku pada dasarnya ia halal .” Di dalam hadits disinggung: “Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-Ku sebagai hunafa’ (bersih lagi ikhlas), kemudian Aku datangkan syaithan, lalu aku jadikan ujian untuk agama mereka, lalu aku haramkan atas mereka sebagian yang telah aku halalkan untuk mereka.” (Imam Ibnu Katsir, al-Yasiir fi Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Jedah, Daru al-Huda li al-Nasyr, 1426 H, Juz 2, halaman 182)

Dalam setiap ujian ada kenaikan derajat seorang hamba. Salah satu wujud kenaikan derajat itu adalah mudahnya diijabahinya doa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafidh Abu Bakar bin Mardawih dari jalur sanad Ibnu ‘Abbas radliyallahhu ‘anhu, suatu ketika sahabat Sa’ad bin Abi Waqas radliyallahu ‘anhu berkata kepada baginda Rasulillah SAW:

عن ابن عباس قال: تليت هذه الآية عند النبي صلى الله عليه وسلم: ياأيها الناس كلوا مما في الأرض حلالا طيبا - فقام سعد بن أبي وقاص ، فقال : يا رسول الله ، ادع الله أن يجعلني مستجاب الدعوة ، فقال: يا سعد ، أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة ، والذي نفس محمد بيده ، إن الرجل ليقذف اللقمة الحرام في جوفه ما يتقبل منه أربعين يوما ، وأيما عبد نبت لحمه من السحت والربا فالنار أولى به "

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata: [Suatu ketika] ayat ini dibaca di sisi baginda Nabi SAW  - “Wahai manusia, makanlah dari apa yang dihasilkan bumi dengan cara halal lagi baik” – maka berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash radliyallahu ‘anhu lalu berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah tuan kepada Allah agar menjadikan aku orang yang dikabulkan doanya!” Kemudian Nabi menjawab: “Wahai Sa’ad, baguskanlah makananmu maka niscaya dikabulkan doamu. Demi Dzat yang diri Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya seorang laki-laki yang memasukkan satu suapan haram ke dalam perutnya, tidak akan diterima doa darinya selama 40 hari. Daripada daging seorang hamba tumbuh dari perkara haram (suht) dan riba, maka api adalah lebih utama dengannya.” (Imam Ibnu Katsir, al-Yasiir fi Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Jedah, Daru al-Huda li al-Nasyr, 1426 H, Juz 2, halaman 183)

Sampai di sini jelas sudah bahwasanya di dalam mencari rezeki, Allah SWT dan Rasul-Nya menghendaki agar kita mencarinya dari jenis rezeki yang halal. Cara memperoleh rezeki juga diperintahkan dengan jalan yang baik (thayyiban). Dengan demikian, segala rezeki yang masuk ke dalam jasad seorang hamba tergantung seberapa kuat dan ketat ia memfilternya. Namun, di dalam memfilter rezeki, Allah SWT juga menggariskan agar tidak menjadikan perkara yang jelas diperbolehkan oleh syariat menjadi haram, atau sebaliknya yang haram menjadi diperbolehkan. Untuk maksud inilah, sangat penting bagi seorang muslim mendalami dan menekuni fiqih muamalah.

Wallahu a’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim