NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Mus: Butuh Sikap Adil untuk Menyempurnakan Akhlak

Selasa, 13 Maret 2018 10:00 Nasional

Bagikan

Gus Mus: Butuh Sikap Adil untuk Menyempurnakan Akhlak
KH Ahmad Mustofa Bisri.
Jakarta, NU Online
Nabi diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Untuk mewujudkan penyempurnaan akhlak itu, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan satu hal penting pada Program Gus Yahya bertanya Kiai Mus menjawab episode 1, Senin (12/3), yakni keadilan.

Pada program yang disiarkan tunda melalui akun Youtube Gus Mus Channel itu, Gus Mus menyampaikan bahwa khatib dalam mimbar Jumat selalu menyitir Al-Qur’an Surat al-Nahl ayat 90.

Ayat tersebut mengandung perintah berbuat adil. Selain itu, ayat lain yang berbicara perintah berlaku adil adalah surat al-Maidah ayat 8 dan surat al-Nisa ayat 135.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu menerangkan bahwa kesulitan manusia dalam berlaku adil itu karena adanya emosi dalam dirinya.

“Condong ke sana benci, condong ke sini cinta,” katanya.

Karena itu, menurut Gus Mus, Rasulullah saw selalu mengajarkan sikap tengah-tengah. Adil tidak bisa dilakukan oleh mereka yang ekstrem. “Anda kalau terlalu benci, anda tidak bisa adil. Anda kalau terlalu cinta, tidak bisa adil.”

“Dengan sikap tengah-tengah, kita bisa lebih mudah bersikap adil,” lanjutnya.

Untuk menegakkan kebenaran, pada program yang mengangkat tema Misi Utama Nabi Muhammad itu, Gus Mus menegaskan harus bilqisth dan lillah. Seolah-olahkalau tidak adil, tidak lillah.Al-Quran jelas melarang kebencian yang hingga menyeret untuk berlaku tidak adil.

“Kebanyakan mufassir mengatakan qaum (pada surat al-Maidah ayat 8) ini orang kafir. Kalau kepada orang kafir saja tidak boleh tidak adil, apalagi dengan sesama kaum yang beriman,” tegas Gus Mus.

Pernah suatu kali sahabat Nabi ditugasi Rasulullah untuk datang pada saat panen kurma di Khaibar. Kurma milik umat Islam itu digarap oleh orang Yahudi. Ia melihat untuk menghitung berapa hasilnya dan membaginya kepada orang Islam dan penggarapnya Yahudi.

Lalu, seorang Yahudi yang mengelola kebun berbisik merayu sahabat tersebut untuk memberikan laporan yang berbeda dari hasil panennya kepada Rasulullah. Sontak sahabat tersebut naik pitam.

“Kamu tahu nggak? Saya diutus oleh orang yang paling aku cintai. Diutus kepadamu yang paling saya benci. Tapi kecintaanku kepada yang mengutus saya dan kebencianku kepadamu tidak boleh membuat saya tidak adil,” kata Gus Mus menirukan ucapan sahabat itu.

“Keadilan ini penting terutama bagi mereka yang mau menegakkan kebenaran,” lanjutnya.

Jauhnya jarak dari mata air ke muara itu perlu dialirkan air-air bening. “Watawashaw bilhaqqi watawashaw bisshabri,” pungkas Gus Mus mengutip akhir surat al-‘Asr. (Syakir NF/Fathoni)