::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pengkhianatan Idealisme Cendekiawan

Rabu, 14 Maret 2018 18:00 Opini

Bagikan

Pengkhianatan Idealisme Cendekiawan
Ilustrasi: pepnews
Oleh Nanang Qosim 

“Manusia ibarat pohon. Semakin dia naik ke ketinggian dan menuju cahaya, semakin mantap akarnya menembus bumi, ke bawah, ke kegelapan, dan ke kedalaman--menuju kejahatan,” (Fiedrick Wilhelm Nietzsche, filsuf Jerman).

Sebuah adagium yang membenarkan filosofi tentang kehidupan bahwa meski begitu hebatnya manusia dalam menyucikan dan memurnikan dirinya dan mencerdaskan intelektualitasnya, namun di dalam hatinya tetap tersekap keinginan-keinginan jahat atau menyimpang.

Kemanusiaan manusia--dengan segala kebaikan dan keburukannya--selalu menyatu di dalam dirinya. Kejahatan dalam kadar tertentu akan terus berkembang bersamaan dengan manusia dalam mencari dan menyempurnakan kesejatian dirinya. Maka, tidak heran korupsi dalam aneka modus tidak luput menyergap siapa saja, termasuk kaum intelektual bergelar profesor dan doktor yang belakangan ini banyak digiring ke meja pengadilan dalam kaitan kasus korupsi.

Indikasi keterlibatan para intelektual membuat pembicaraan perihal korupsi pun menjadi topik yang kian menusuk ke jantung eksistensi manusia sebagai makhluk yang hakikat dasarnya mengandung benih-benih kecurangan terhadap hal-hal duniawi, meski dia telah menapaki tingkat pendidikan dan peradaban tertentu. Seperti kata filsuf eksistensialis Gabriel Marcel, setiap manusia selalu memiliki dorongan untuk lekat dengan materi.

Terlibatnya sejumlah intelektual atau kaum cendekiawan dalam jaringan korupsi semakin memudarkan harapan masyarakat terhadap kaum cendekiawan itu sendiri dan nasib bangsa. Mengapa? Tatkala terlihat begitu banyak cendekiawan memasuki kancah politik kekuasaan dan terlibat dalam tata kelola negara, menjadi pejabat, masyarakat awalnya berharap ada sesuatu yang dipertaruhkan oleh mereka lewat ide-ide besar guna melepaskan bangsa ini dari jeratan krisis.

Masyarakat berharap mereka sanggup menyalahkan obor penerang bagi bangkitnya harapan di tengah gelombang kegelapan nurani yang menutup langit Indonesia. Atau, para cendekiawan diharapkan sanggup membuka gembok misteri krisis bangsa yang terjebak dalam lorong kegelapan tanpa secercah cahaya di langit bumi pertiwi. Atau, mereka diharapkan dapat membangkitkan optimisme publik yang kini terjerembab dalam pesimisme akut akibat ketidakadilan dan kenestapaan. Tetapi, apa yang kita lihat?

Pertama, banyak politisi dan pejabat negara dari kalangan cendekiawan larut dalam hiruk-pikuk politik dan gebyar demokrasi, dan telah menjadikan kekuasaan dan harta di atas segala-galanya. Kejernihan dan kejenialan dalam menyampaikan gagasan, kegenitan dalam berargumentasi,kecerewetan dalam bertanya, kelancangan dalam diskusi, semakin sunyi di tengah perilaku hedonistis yang menyekap kehidupan mereka.

Suara kaum cendekiawan yang bagaikan amarah kenabian tidak terdengar lagi. Suara kewaskitaannya seolah tidak sanggup lagi menjebol jeruji batin publik yang tergembok, dan membebaskan nurani bangsa yang terbekap.

Kedua, yang paling ironis saat ini adalah dalam praxis politik dan dalam menjalankan tugas tata kelola negara, tidak sedikit kaum cendekiawan yang terjerat korupsi. Sehingga, sosok mereka yang menjadi simbol kekuatan nurani, integritas, obyektivitas, kejujuran, rasionalitas serta penjaga gerbong moral bangsa dinilai tidak lebih mulia daripada koruptor yang selama ini dikritisinya.

Maka, sulitlah membuat idealisasi sosok cendekiawan seperti digambarkan dalam buku-buku klasik karangan Julian Benda (1927), Edward Shills (1955), Karl Mannheim (1968), Antonius Gramsi (1971), dan lain-lain. Cendekiawan yang digambarkan dalam buku-buku tersebut umumnya sebagai resi atau 'orang suci' yang selalu berkhutbah tentang pentingnya menjalani kehidupan yang bermoral, berintegritas, yang mengutamakan pengabdian yang tulus, kerja-kerja kemanusiaan tanpa pamrih, menyerukan kebaikan dan kemaslahatan dan menyingkirkan kehidupan yang jauh dari etika dan moralitas.

Memang, kaum cendekiawan dalam posisinya sebagai penjaga intelektualitas publik diharapkan tidak menghambakan dirinya pada kepentingan kekuasaan atau harta, melulu dengan penuh perhitungan tersembunyi demi egoisme nafsu keuntungan diri. Secara kodrati, seorang cendekiawan atau intelektual diharapkan tetap tampil sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan universal, dan tidak terjebak dalam partikularitas kepentingan pribadi dan kelompok.

Atau, seperti kata Khalil Gibran dalam The Wanderer, harus ibarat seorang musafir yang selalu mencari dan memberi arti tentang kebenaran, sekaligus tidak silau oleh harta dan kekuasaan. Seorang intelektual tidak terjebak oleh tawaran-tawaran materi dan kekuasaan yang nikmat, hedonistis dan pragmatis.

Pengkhianatan
Karena itu, tatkala seorang cendekiawan terlibat dalam korupsi dan permainan kotor dalam jaring kekuasaan, di sana telah terjadi sebuah pengkhianatan, baik terhadap dirinya maupun terhadap patria-negara. Seorang cendekiawan itu ibarat musafir, sehingga pertama, menjadi penguasa atau politisi, ia sudah mengkhianati integritas kecendekiaannya. Gua tapa intelektualnya sudah terusik oleh godaan kepentingan diri.

Kedua, terlibat korupsi, berarti seorang cendekiawan telah mengkhianati semangat cinta negeri yang merupakan keagungan dan kesalehan puncak dengan kesediaan menempatkan kemaslahatan umum di atas segalanya.

Ketika seorang cendekiawan menjadi politisi atau pejabat, dia sangat diharapkan dapat menjadi penerang atau dapat memberikan pencerahan bagi kegelapan bangsa yang kejernihan nuraninya tersekap oleh krisis. Atau, demi cintanya terhadap patria, dapat tergali semua kemampuan kaum cendekiawan untuk mengambil keputusan berat dengan mengorbankan kepentingan diri demi kepentingan semua dan mengantarkan semua kepada kesejahteraan dan kebahagiaannya.

Tatkala seorang cendekiawan sudah keluar dari gerbong suci atau martabat mulia kecendekiawannya, dan mengabdi kepada kekuasaan dan harta, atau tunduk pada materi yang mengandung pesona, terjerat dalam kemewahan dan kenikmatan badani yang hanya menaikkan tensi gengsi sosial, maka ia harus segera kembali membangkitkan optimisme dan menumbuhkan semangat nasionalisme dan mematrikan patrionalisme sebagai modal moral cermin jiwa-jiwa rahim yang mutlak dimiliki seorang cendekiawan.

Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Tengah, Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang,