::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?

Kamis, 15 Maret 2018 22:45 Hikmah

Bagikan

Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?
Bila ada yang beniat mengamalkan Al-Qur’an, mulailah dengan mengamalkan ayat pertamanya, yaitu basmallah dalam setiap aktivitas. Tanpa fondasi basmalah, maka ayat-ayat selanjutnya akan susah diamalkan. Ibarat akan membangun rumah, kuatkan dulu fondasinya. Untuk itu, kuatkanlah pemahaman dan pengamalan bismi-Llâhir rahmânir rahîm.

Di antara sekian nama-Nya yang agung, Allah tidak memilih al-Mâlik (Yang Maha Merajai), al-‘Azîz (Yang Maha Perkasa), al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Kebesaran), dan lain-lain sebagai "kartu nama" untuk disebut hamba-Nya terus-menerus dalam setiap memulai aktivitas, tapi Dia memilih ar-Rahmân, ar-Rahîm (Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Ternyata yang pertama disebut dalam ayat Al-Qur’an adalah sifat pengasih dan penyayang. Sudahkah kita meniru sifat Allah ini? Dengan mengamalkan basmillah, maka kita belajar menyayangi orang lain, baik yang berbuat baik maupun berbuat buruk kepada kita. Wali Allah Rabi‘atul Adawiyah tidak memiliki rasa benci kepada iblis karena semua hatinya dipenuhi rasa kasih sayang. 

Bila ada setitik saja kebencian kepada manusia, mungkin karena kita belum mengenal dengan baik siapa pencipta manusia dan belum mengamalkan secara maksimal kandungan basmillah. Jika pun harus menghukum seseorang, hukumlah karena kasih sayang kita kepadanya, bukan karena benci. Sebagaimana hadits nabi yang kurang lebih maknanya, sayangilah siapa pun yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu (irhamû man fil ardli yarhamkum man fis samâ’).

Selanjutnya, saya membayangkan kedahsyatan basmalah kurang lebih seperti ini. Seorang preman di pasar, ketika menyuruh anak buahnya yang baru gabung, mungkin akan berkata, "Ambil jatah kita dari orang-orang, bilang aja lo anak buah gue". Maka pungli pun dengan mudah didapat oleh sang anak buah yang baru meskipun badannya kerempeng.

Seorang pelanggar lalu lintas, ketika akan ditilang, bisa jadi akan berkata, "Saya saudaranya pejabat A." Maka polisi yang hendak menilang, yang tidak mau urusan jadi panjang, mungkin akan melepas pelanggar lalu lintas tadi.

Seorang oknum pejabat yang ingin saudaranya menang tender, mungkin akan berkata ke saudaranya "Sebut saja nama saya, panitia tendernya kenal baik dengan saya. Bahkan dulu ada yang anak buah saya." Maka urusan tender pun bisa jadi akan beres.

Baru menyebut nama orang-orang biasa saja, urusan bisa lancar, meski sebagian mungkin melanggar hukum dan bukan contoh yang baik. Apalagi bila kita menyebut nama Allah pemilik alam semesta. Bahkan istana Ratu Bilqis pun bisa pindah dengan perantaraan ahli ilmu yang mengucap basmalah. Dengan mengucap basmalah dalam setiap aktivitas, maka seolah kita berkata ke alam semesta, "Wahai alam semesta, saya hamba Allah. Maka tunduklah kepadaku atas nama Allah." Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menundukkan alam semesta itu untuk hambaNya. Allahu a'lam.

Roziqin, Dosen Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.