::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat

Selasa, 20 Maret 2018 03:00 Ilmu Tauhid

Bagikan

Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat
Khariqul adat berasal dari dua kata, yaitu khariq yang bermakna menyalahi atau menembus koyak, dan al-‘adat adalah kebiasaan. Jika digabungkan, khariqul adat berarti beberapa perkara yang menyalahi kebiasaan.

Dalam pembahasan ilmu tauhid, ada enam perkara yang dapat menyalahi kebiasaan. Itu semua hukumnya adalah boleh secara akal. Boleh secara akal dalam ilmu tauhid disebut juga ‘jaiz ‘aqli’ yang definisinya adalah sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Artinya, ada dan tiadanya bisa diterima oleh akal, meskipun menyalahi adat dan kebiasaan.

Contoh, api itu panas, dan ia sudah menjadi adat (sudah biasanya) api itu bersifat panas. Namun ketika api tidak panas, sebutlah dingin, maka ia sudah menyalahi kebiasaan. Lantas, apakah secara hukum aqli bertentangan? Tentu tidak. Kita berpatokan pada definisi jaiz ‘aqli, yaitu sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Ia dapat terjadi, juga tidak terjadi.

Apakah kenyataannya pernah terjadi api itu tidak panas? Jawabannya adalah pernah. Ketika Nabi Ibrahim hendak dibakar, nyatanya ia tidak terbakar. Allah SWT menjadikannya dingin.

Yang mempengaruhi kebiasaan adalah Allah SWT, bukan sesuatu itu sendiri. Contoh, cabai itu pedas. Namun, Allah menjadikannya pedas. Ketika cabai itu rasanya manis, maka otomatis ia menyalahi hukum adat. Ini sah saja bagi kita dengan patokan bahwa yang mempengaruhi/membuat (dalam ilmu tauhid biasa disebut mu’tsir) cabai itu pedas adalah Allah SWT.

Kitab Al-Haqâiqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah (Syekhah Syifa binti Hitou, Al-Haqâ’iqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah, halaman 21) menyebut enam perkara yang di luar kebiasaan.

1. Mukjizat
Mukjizat adalah perkara di luar kebiasaan yang diperlihatkan oleh Allah melalui rasul dan nabi-Nya untuk membenarkan kenabiannya. Contohnya, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api karena Allah menjadikannya dingin, air keluar dari sela jari Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati dan banyak contoh mukjizat lainnya.

2. Al-Irhash
Irhash sama seperti mukjizat. Tetapi ia muncul sebelum masa kenabian (bi’tsah) sebagai pengantar atau permulaan dari alamat kenabian, seperti peristiwa bebatuan dan pepohonan yang mengucapkan salam kepada nabi Muhammad dan dibelahnya dada beliau ketika masa kanak-kanak.

3. Karamah atau Keramat
Karamah atau keramat sama seperti mukjizat. Namun karamah Allah perlihatkan melalui orang-orang saleh dan para auliya. Seperti karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang banyak kita dapatkan dalam buku-buku biografinya.

4. Ma‘unah (pertolongan)
Ma‘unah atau pertolongan muncul pada manusia umumnya sebagai bentuk pertolongan Allah kepada mereka, dan terjadi pada perkara umum pula seperti sembuhnya orang yang sudah putus asa bahwa ia tak akan sembuh sama sekali. Derajat ma‘unah ini tidak mencapai irhash maupun mukjizat meski ia dikategorikan sebagai perkara di luar kebiasaan.

5. Istidrâj
Istidrâj diperlihatkan Allah melalui orang-orang kafir dan fasik sebagai fitnah, tipuan, dan bencana bagi orang-orang di sekitar mereka. Contoh, orang kafir semakin sejahtera. Orang durhaka menjalani hidup lancar tanpa cobaan berarti.

6. Ihânah (penghinaan)
Ihânah Allah perlihatkan pada siapa yang ingin Dia hinakan, dengan adanya perkara di luar kebiasaan namun tidak sesuai dengan tujuannya, seperti yang pernah terjadi pada Musailamah Al-Kadzzab.

Musailamah pernah berdoa untuk orang yang buta satu matanya, agar matanya yang buta itu menjadi sembuh bisa melihat. Namun yang terjadi, Musailamah malah membutakan semua matanya. Musailimah meludah ke dalam sumur supaya menjadi manis rasa airnya. Namun, air sumur itu berubah menjadi asin yang sangat asin. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)