::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Pertanyaan yang Berpotensi Sudutkan Perempuan

Jumat, 06 April 2018 20:00 Opini

Bagikan

Dua Pertanyaan yang Berpotensi Sudutkan Perempuan
Ilustrasi (Pixabay)
Oleh Muhammad Ishom

Salah satu kesukaan saya akhir-akhir ini adalah menyimak atau mengikuti status beberapa teman perempuan di akun Facebook mereka. Tidak jarang saya menemukan curhatan mereka yang bermacam-macam. Ada yang curhat karena belum ketemu jodoh meski umur sudah cukup matang. Ada juga yang curhat belum diberi-Nya momongan meski sudah lama menikah dan usia sudah lebih dari sepertiga abad. Dua persoalan ini berpotensi menyudutkan perempuan jika terus-menerus ditanyakan kepada mereka.

Dari status-status yang mereka tulis, secara jelas mereka sebetulnya cukup sabar menerima nasib yang belum semujur mereka yang bernasib baik. Namun hal yang sering kali membuat mereka merasa bosan, jengkel, tersakiti dan marah adalah ketika banyak orang tidak bisa memahami perasaan mereka, yakni ketika mereka ditanya terus-menerus kapan menikah atau kapan punya anak.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin bermaksud baik karena bisa jadi hal itu merupakan bentuk perhatian penanya. Tetapi pertanyaan yang terus-menerus diajukan tidak jarang membuat mereka malah merasa disudutkan. Misalnya, ketika ditanya kapan menikah. Pertanyaan seperti ini kadang dipersepsi seperti menghakimi mereka telah bersalah karena dianggapnya terlalu jual mahal atau terlalu idealis dalam memilih jodoh sehingga “tak laku-laku”. Padahal mereka sebetulnya jauh dari anggapan seperti itu.

Terhadap pertanyaan kapan punya anak yang terus-menerus diajukan, tidak jarang pertanyaan seperti ini membuat mereka juga merasa dihakimi sebagai perempuan yang tak mampu memberikan keturunan. Padahal persoalan ini tidak semata-mata wilayah mereka. Bisa jadi persoalan ada pada laki-laki yang karena sebab-sebab tertentu kurang memungkinkan terjadinya pembuahan atas sel telur secara mudah dalam rahim perempuan. Atau persoalan ada pada kedua belah pihak sehingga terakumulasi dan mempersulit kehamilan. 

Kapan Kamu Mati?

Baru kemarin saya mengetahui bagaimana salah seorang dari kaum hawa itu – sebut saja bernama Fulanah - telah menemukan cara menghentikan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Dalam sebuah statusnya, ia bercerita bahwa seseorang marah padanya dan kapok bertanya lagi karena pertanyaan baliknya. Ketika ia ditanya, “Kapan kamu menikah?” Ia menjawab dengan mengajukan pertanyaan balik, “Kapan kamu mati?”

Pertanyaan balik kapan mati sekilas terasa tidak etis karena bisa ditafsirkan menginginkan atau berharap kematian pihak penanya kapan menikah. Padahal Fulanah hanya bermaksud mengingatkan dan mengajaknya berpikir bahwa sebagai orang beragama tentu meyakini ada tiga hal dalam hidup ini yang menjadi rahasia Tuhan, yakni: jodoh, rezeki dan mati.

Oleh karena itu, menurutnya, pertanyaan kapan menikah itu setara dengan pertanyaan kapan mati. Bahkan juga setara dengan pertanyaan kapan punya anak karena soal kelahiran manusia juga hanya Tuhan yang tahu dan menentukan. Jadi jika anda tidak suka dengan pertanyaan, “Kapan kamu mati?”, maka berpikirlah bahwa tidak setiap orang sanggup ditanya terus-menerus kapan menikah atau kapan punya anak.

Jika pertanyaan dibalas dengan pertanyaan balik tentu tidak ada pertanyaan terjawab. Maka pertanyaan-pertanyaan seperti kapan menikah atau kapan punya anak tidak selalu penting untuk diajukan. Jika kita memang tahu seseorang belum menikah atau sudah menikah tapi belum dikaruniai seorang anak dan kita menyadari tidak bisa membantu apa-apa, tentu lebih baik kita mendoakan saja semoga mereka akan segera diberi-Nya anak-anak saleh dan salehah atas kesabaran masing-masing. Doa-doa seperti itu tentu lebih menyejukkan hati dan akan disambut dengan ucapan “Amin” dan terima kasih yang sedalam-dalamnya.  


Penulis, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta