::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Paddhang Bulan, di Tengah Keramaian Menziarahi Kebangsaan

Selasa, 17 April 2018 16:30 Daerah

Bagikan

Paddhang Bulan, di Tengah Keramaian Menziarahi Kebangsaan
Pamekasan, NU Online
Ketika setiap komposisi musik bertalu silih berganti, mengiringi lagu daerah "Ronggosukowati" yang dimainkan kelompok musik etnik-religi Paddhang Bulan, tanpa diundang orang-orang yang kebetulan berada di sekitar area Jalan Trunojoyo Pamekasan serentak berkumpul, menyalakan tiap ponsel pintar mereka tak ingin melewatkan momentum tersebut, Ahad (15/4) malam.

Di depan Gedung Dewan Kesenian Pamekasan, digelar Kongkow Budaya "Ziarah Kebangsaan" yang diselenggarakan oleh Yayasan Paddhang Bulan Tacempah. Gelaran budaya yang didukung oleh Dewan Kesenian 
Pamekasan dan Ngaji sambil Ngopi (Ngasango) itu, tak hanya dihadiri oleh masyarakat umum, mahasiswa, komunitas literasi l, tapi juga dihadiri oleh para pegiat seni dan kiai muda di Pamekasan.

Lora Muhammad Abbas Katandur, selaku pembicara merefleksikan persoalan kebangsaan kita untuk selalu menjaga bersama persatuan dan kesatuan,  apapun golongannya adalah saling menyayangi satu sama lain dalam bingkai persatuan mesti diutamakan.

Mengingat, lanjutnya, akhir-akhir ini betapa banyak disodorkan ke hadapan kita melalui framing media massa maupun media sosial yang justru meruncingkan konflik horizontal antar golongan sesama muslim. Itu disebabkan kepentingan-kepentingan yang pendek.

"Betapa kasih sayang Allah SWT sangatlah luas atas hambanya, tugas kita sebagai bangsa adalah menciptakan peluang dan kemungkinan islah yang kontinyu. Surga dan neraka untuk para pendosa, surga bagi mereka yang menyesal akan dosa-dosanya dan neraka bagi mereka yang bangga akan dosa-dosanya," tegasnya.

Kiai Makmun Tamim Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, memberikan pendadaran tentang keberagaman. Ia menjelaskan banyak tentang lagu Ronggosukowati yang memiliki rasa chinese dalam tangga nadanya. 

"Sebagai suatu bentuk nyata bahwa sejak mula bangsa Indonesia, bahkan Madura memiliki daya asimilatif yang tinggi terhadap kebudayaan yang datang. Ini menjadi bukti bahwa semestinya kita mendahulukan kerukunan dalam berbangsa daripada menyulut konflik," tandasnya.

Sementara Cak Hamdani, budayawan muda dan Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah yang memandu jalannya dialog tersebut menegaskan, tugas para pegiat kebudayaan untuk percaya pada kekuatan evolutif dari kesadaran berbudaya dan melakukan kerja-kerja dialektis terus-menerus bersama masyarakat. 

"Agar dalam konteks lokomotif keindonesiaan kita, kita dapat bersama-sama melahirkan kepemimpinan dan pemimpin yang hakiki dan bukan sekedar penguasa," pungkasnya. (Hairul Anam/Muiz)