::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Ini Jelaskan Isra’ Mi’raj dalam Pandangan Sufi

Selasa, 17 April 2018 21:15 Daerah

Bagikan

Kiai Ini Jelaskan Isra’ Mi’raj dalam Pandangan Sufi
Semarang, NU Online
Peristiwa Isra’ Mi’raj umumnya diartikan hanya sebuah cerita perjalanan Nabi. Namun di kalangan sufi, lebih menjadikan peristiwa tersebut untuk menguatkan spiritual. 

“Isra’ Mi’raj tidak hanya sekedar cerita. Kita bisa untuk menjadikannya jalan menuju kesuksesan,” kata Pengasuh Pondok Persantren Ulil Albab, KH Abdul Muhayya. 

Karena IQ atau Intelligence Quotients hanyalah kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya. “Dan dalam kenyataannya hanya menyumbang maksimal 26% untuk kesuksesan seseorang,” urainya pada acara bertajuk Ngaji Pergerakan di Masjid Darusy Syukur Ngaliyan, Semarang, Senin (16/4).

Selebihnya yang menantukan adalah  emotional quotient, atau EQ yakni kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. “Juga kecerdasan spiritual atau spiritual quotient,” sergahnya.

“Karenanya kita harus bisa mengelola ketiga hal tersebut sesuai porsinya agar keseimbangan dapat tercapai,” jelas Kiai Muhayya yang juga dosen UIN Walisongo itu.

Kiai Muhayya menjelaskan bahwa lambang masjid menuju masjid berarti perjalanan dari tempat suci menuju tempat suci. “Hidup ini harus diawali dari kesucian menuju kesucian. Kita keturunan surga, maka harus kembali ke surga,” ungkapnya.

Dirinya kemudian mengggambarkan, Isra’ Mi’raj adalah perjalanan sang cinta (Nabi Muhammad) menuju yang dicintai (Allah) dan sang cinta memperoleh begitu banyak sesuatu dari yang dicintai. 

Tidak mungkin seorang pecinta menolak pemberian banyak dari yang dicinta apalagi oleh-oleh tersebut untuk yang disenangi (umat). “Namun kebanyakan manusia masih kurang merasakan cinta tersebut, hingga meminta keringanan untuk lebih mudah menjalankan,” ungkapnya.

Rupanya shalat belum menjadi sebuah bentuk kesenangan umumnya manusia. “Banyak hal lain yang lebih memberikan kesenangan daripada shalat,” jelasnya. Seperti bermain lima jam akan terasa singkat, namun shalat lima menit terasa sangat lama, lanjutnya.

Maka dari itu, lanjutnya, Allah menjadikan shalat sebagai kewajiban, karena juga merupakan bentuk komunikasi dengan Allah. “Shalat adalah jalan menuju surga. Maka jika kita telaah Allah mewajibkan masuk surga dari kewajiban shalat tersebut. Inilah salah satu wujud rahman dan rahiim Allah,” ungkapnya.

Hal tersebut dikemukakan Kiai Muhayya dalam rangka memperingati hari lahir atau harlah ke-58 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia  (PMII) dan Isra’ Mi’raj, PMII Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang.

KH Abdul Muhayya yang mengisi tausiah mengatakan bahwa terlebih dahulu perlu memaknai harlah dan Isra’ Mi’raj ini menjadi dua dalam kesatuan. “Apa visi-misi dari yang kita peringati, kemudian apa yang harus kita lakukan sebagai insan pergerakan,” terangnya.

Di era ini, disebut Kiai Muhayya sebagai zaman yang erat kaitannya dengan perubahan teknologi yang begitu cepat dan berkembang di mana-mana. “Dalam hal ini, PMII harus mempersiapkan diri karena bagaimana eksistensinya akan tetap terjaga dan bisa menjawab tantangan zaman,” katanya.

Ia menyampaikan, di era disrupsi ini, yang harus dipersiapkan adalah bekal inovasi. “Inovator harus selangkah lebih depan dari yang lain,” tegasnya. Namun bagaimana meningkatkan kapasitas intelektual untuk sebuah inovasi ini yang harus dipikir dan dilakukan. (Siti Barokhatin Ni’mah/Ibnu Nawawi)