::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Rais PCINU Australia Dorong Santri Produktif Narasikan Kitab Sejarah Klasik

Senin, 23 April 2018 20:30 Nasional

Bagikan

Rais PCINU Australia Dorong Santri Produktif Narasikan Kitab Sejarah Klasik
acara bedah buku islam yes khilafah no
Jombang, NU Online
Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia H Nadirsyah Hosen memandang perlu para santri mulai belajar menarasikan sejarah keislaman di sejumlah kitab klasik dengan tulisan lebih menarik.

Menurut pandangannya, demikian itu penting untuk menambah minat baca khalayak tentang sejarah Islam saat ini. Lantaran terkait materi sejarah Islam hingga saat ini mayoritas ditulis dengan narasi yang datar, ini tentu membuat pembaca cenderung bosan.

"Nah teman-teman di pondok mesti belajar (menarasikan isi kitab sejarah) dengan lebih menarik," ungkapnya saat acara bedah buku dengan judul Islam Yes, Khilafah No di Aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Minggu (22/4).

Materi sejarah keislaman yang ditulis oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) di kitab klasik cukup banyak. Santri dapat mengoleksinya di beberapa tempat, seperti perpustakaan dan lain sebagainya. 

"Materi kita kaya, misal kisah-kisah yang ditulis Imam At-Thobari di salah satu karyanya Tafsir At-Thobari dan sebagainya. Itu bisa kita narasikan dengan lebih menarik," ujarnya.

Menulis ulang muatan sejarah Islam masa lampau dengan bahasa kekinian (lebih menarik) bukan berarti mengubah isi dari cerita tersebut. Hanya saja untuk lebih membuat pembaca lebih betah saat hendak mambaca sejarah.

"Ceritanya kita tidak ubah, namun hanya untuk menarasikannya lebih menarik," jelas dia. (Syamsul Arifin/Muiz)