::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Pentingnya Melestarikan Tradisi Ibadah di Bulan Sya'ban

Ahad, 29 April 2018 10:30 Daerah

Bagikan

Pentingnya Melestarikan Tradisi Ibadah di Bulan Sya'ban
KH Munawir, Katib Syuriyah PCNU Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Bulan Sya'ban merupakan salah satu bulan yang mulia. Berbagai macam fadhilah dan sejarah penting Islam ada di dalam bulan ke delapan dalam tahun hijriyah ini. Salah satunya, Sya‘ban merupakan bulan dimana arah kiblat dipindahkan dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka‘bah di Arab Saudi.

Dalam bulan ini juga turun Surat Al-Baqarah ayat 144, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang menganjurkan pembacaan shalawat, diangkatnya amal-amal manusia menuju ke hadirat Allah SWT, dan berbagai peristiwa lainnya. Oleh karena itu dianjurkan bagi umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah khususnya di hari ke 15 atau dikenal dengan Nishfu Sya'ban.

Ajakan ini disampaikan Katib Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung KH Munawir saat mengupas materi tentang fadhilah atau keutamaan Bulan Sya'ban pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Aula gedung PCNU Pringsewu, Ahad (29/4).

"Nishfu Sya'ban adalah waktu ditutupnya buku amal seseorang selama setahun dan dibuka kembali buku amal untuk waktu selanjutnya sehingga disunahkan untuk melakukan banyak amal ibadah di malam tersebut untuk mengakhiri dan mengawali buku amal," jelasnya.

Keutamaan nishfu Sya'ban oleh warga NU dimaksimalkan dengan mengadakan kegiatan berjamaah di masjid dan mushala melalui berbagai macam ibadah seperti shalat, membaca Al Qur'an, shalawat, shadaqah dan sejenisnya.

"Tradisi ini harus dipertahankan dan diteruskan kepada generasi penerus kita sebagai lahan ibadah, silaturahmi, dan kebersamaan. Kebiasaan ambengan, tumpengan, dan sejenisnya harus dilestarikan," ajaknya.

Para kiai, tokoh masyarakat harus memberikan contoh dan kesemangatan untuk senantiasa menggerakkan elemen masyarakat disekitarnya melaksanakan tradisi yang di dalamnya juga bernilai ibadah.

"Jangan malah yang ditokohkan di lingkungan terbawa-bawa rasa malas tidak melestarikan tradisi baik ini," ingat Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini.

Untuk memotivasi kesemangatan beribadah di malam nishfu Sya'ban ini, ia menjelaskan juga bahwa malam tersebut adalah salah satu malam mustajabah untuk berdoa. Sehingga sangat penting untuk bermunajat agar diampuni segala dosa, dikaruniai rezeki yang berkah, dan diberikan umur yang panjang untuk beribadah.

"Apalah rasanya diberikan umur panjang serta rezeki berupa materi yang banyak tapi tidak berkah. Keberkahan umur akan terasa saat kita diberi umur panjang namun masih bisa berjalan kemasjid untuk berjamaah. Keberkahan materi akan terasa jika kita senantiasa dikaruniai kesehatan oleh Allah SWT," tandasnya. (Muhammad Faizin)