NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mencicipi Kenikmatan Duniawi ala Syekh Syadzili

Senin, 30 April 2018 22:40 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Mencicipi Kenikmatan Duniawi ala Syekh Syadzili
Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah. Yang membedakan mereka adalah tingkat ketakwaannya. Kualitas ketakwaan ini dapat diraih sejauh mana orang itu mengisi setiap waktunya dengan sesuatu yang bernilai ibadah. Mereka harus berzuhud untuk sampai ke sana. Tetapi mereka juga tetap dapat menikmati kelezatan dunia sesuai anjuran Syekh Syadzili berikut ini:

وقد كان أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى يقول لأصحابه "كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر"

Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili pernah berkata kepada muridnya, ‘Makanlah hidangan paling enak, reguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Bila satu dari kamu melakukannya lalu berucap syukur, ‘alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 5).

Anjuran Syekh Syadzili ini dimaksudkan agar seseorang bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dengan totalitas. Jangan sampai seumur hidup menikmati dunia yang apa adanya, lalu bersyukur dengan biasa-biasa saja atau bahkan tidak menerimanya dengan ridha. Ini merupakan musibah bagi mereka yang menapaki jalan Ilahi sebagaimana keterangan Syekh Syadzili berikut ini:

"بخلف ما إذا أكل خبز الشعير بالملح ولبس العباءة ونام على الأرض وشرب الماء المالح السخن وقال الحمد لله فإنه يقول ذلك وعنده اشمئزاز وبعض سخط على مقدور الله تعالى ولو أنه نظر بعين البصيرة لوجد الاشمئزاز والسخط الذي عنده يرجح في الإثم على من تمتع بالدنيا بيقين فإن المتمتع بالدنيا فعل ما أباحه الحق سبحانه وتعالى ومن كان عنده اشمئزاز وسخط فقد فعل ما حرمه الحق عز وجل"

Artinya, “Berbeda misalnya dengan seseorang mengonsumsi sekadar roti gandum dengan asin, mengenakan pakaian dengan bahan karung, tidur beralas tanah, mereguk air agak asin sedikit panas, lalu berucap ‘alhamdulillah’ dengan perasaan ketidaksudian dan dongkol atas takdir Allah. Kalau memandang dengan mata batin, ia akan mendapati dosa ketidaksudian dan kedongkolan di dalam hatinya itu lebih besar dibanding dosa mereka yang sungguh-sungguh menikmati dunia. Karena, mereka yang menikmati dunia sungguh-sungguh itu melakukan apa yang memang sesungguhnya mubah. Sementara orang yang merasa tidak sudi dan dongkol (karena kurang ikhlas dan ridha) melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT,” (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 5).

Rasa syukur yang setengah-setengah ini berbahaya. Oleh karena itu, Syekh Syadzili mendorong seseorang untuk melakukan yang mubah, yaitu makan, minum, tidur, dan banyak mubah lainnya dengan niat untuk membesarkan Allah SWT atas nikmat-Nya. Untuk membesarkan Allah, seseorang perlu sesekali menikmati dunia yang mubah dengan kualitas terbaik. Dengan syukur yang total dan takzim maksimal kepada-Nya, nilai mubah pada kenikmatan dunia itu berubah menjadi ketaatan yang mengandung nilai dan maqam tertentu di sisi Allah.

Imam Sya’rani yang dibesarkan dalam tradisi Syadziliyah menyebut bahwa meninggalkan yang mubah adalah jalan untuk naik kelas secara spiritual. Untuk itu, niat menjadi seseuatu yang sangat penting untuk mengubah sebuah amalan mubah yang tanpa nilai menjadi amalan bernilai sebagai keterangan berikut ini:

واترك المباحات طلبا لترقي المقامات العلية

Artinya, “Jauhilah yang mubah dengan harapan naik ke derajat yang tinggi,” (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Keterangan Syekh Syadzili ini sebaiknya tidak dipahami secara sempit untuk melampiaskan nafsu duniawi dan membentuk hidup konsumtif serta hedonisme, apalagi disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Anjuran ini lebih dipahami sebagai salah satu cara untuk menciptakan totalitas syukur dan kiat mengubah nilai mubah.

Anjuran Syekh Syadzili sangat realistis. Manusia tidak mungkin memendam keinginan terhadap salah satu kenikmatan dunia yang diciptakan Allah memang menggiurkan, salah satunya air es. Manusia perlu memenuhi sedikit tuntutan keinginan yang terkekang dengan catatan niat untuk ibadah, mengobati keinginan tersebut, dan meraihnya tetap dalam koridor syariat.

Dengan niat dan cara yang benar, kenikmatan itu tidak membuat perjalanan ilahi seseorang menjadi mandek dan jumud. Ini juga yang membuat kita tidak boleh menuduh hubbud duniya bagi mereka yang berpakaian bagus, berumah megah, dan berkendaraan mewah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)