::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Inilah Tiga Gaya Penyampaian Khutbah

Selasa, 01 Mei 2018 15:00 Jumat

Bagikan

Inilah Tiga Gaya Penyampaian Khutbah
Ilustrasi (© Reuters)
Khutbah Jumat merupakan salah satu elemen (rukun) terpenting dalam pelaksanaan Jumat. Tanpanya, shalat Jumat tidak sah. Khatib harus memperhatikan beberapa syarat dan rukun khutbah.

Baca: Rukun-rukun Khutbah dan Penjelasannya
Banyak cara dan gaya yang dilakukan khatib dalam menyampaikan khutbahnya. Ada yang menyampaikan dengan suara tegas, ada lagi yang menggunakan suara lemah lembut dan lain sebagainya. Sebenarnya, bagaimana tata cara dalam menyampaikan khutbah?

Dalam kitab Manâhij al-Imdâd juz 1 halaman 311, Syekh Ihsan bin Dakhlan, ulama Nusantara dari Kediri mengutip dari Syekh Muhammad bin Thalun, bahwa gaya berkhutbah ada tiga macam sebagai berikut:

Pertama, gayanya ulama masyriq, sebagian ulama Mesir dan minoritas ulama Syam.

Menurut cara yang pertama ini, khutbah disampaikan dengan penuh irama, dengan suara pelan dan lemah lembut, tidak menakutkan. Cara seperti ini dapat meluluhkan hati para pendengar serta dapat memberikan kenyamanan kepada khatib. Cara pertama ini dipakai oleh Syekh Khatib al-Mushili dari kalangan ulama mutaqaddimin (ulama klasik) dan Syekh Utsman bin Syams dari kalangan muta’akhirin (ulama kontemporer).

Baca juga: Dasar Hukum Bacaan Bilal Menjelang Khatib Naik Mimbar Khutbah
Kedua, gayanya mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Syam.

Cara kedua dilakukan dengan mengombinasikan antara nagham (berirama) dan tahqiq (bersuara jelas tanpa irama). Sesekali khatib menyampaikan khutbahnya dengan datar, sesekali ia menyampaikannya dengan nada dan penuh irama.

Di antara yang menempuh cara kedua ini adalah al-Khatib Badruddin al-Damasyqi dari kalangan ulama klasik dan Syekh Sirajuddin ibnu al-Shairafi al-Syafi’i dari kalangan ulama kontemporer.
Ketiga, gayanya mayoritas ulama Syam.

Cara yang ketiga ini dilakukan dengan suara yang tegas dan keras, dengan intonasi lantang yang dapat menggetarkan jiwa para pendengarnya. Cara ini adalah yang menyerupai gaya dan intonasi Rasulullah saat berkhutbah.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ اِحْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Dari sahabat Jabir, sesungguhnya Nabi saat berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang dan sangat marah. Seakan-akan beliau memotivasi pasukan perang.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Demikian tiga cara penyampaian khutbah. Ketiganya memiliki kelebihan masing-masing. Prinsipnya, bagaimana khutbah dapat mengena dan dipahami oleh para pendengarnya. Khatib dapat memilih salah satu dari tiga cara di atas, disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. (M. Mubasysyarum Bih)