::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peneliti DASPR Jelaskan Sebab dan Pencegahan Terorisme

Kamis, 17 Mei 2018 05:15 Nasional

Bagikan

Peneliti DASPR Jelaskan Sebab dan Pencegahan Terorisme
Jakarta, NU Online
Peneliti pada Divisi Riset Psikologi Sosial Terapan atau Division for Applied Sosial Psycology Researc (DASPR) Daya Makara Universitas Indonesia, Vici Sofianna Putera berpendapat munculnya aksi terorisme belakangan ini didorong oleh adanya orang-orang yang secara alami memiliki tingkat agresivitas tinggi. 

“Apalagi ditambah ajaran radikal yang memperbolehkan tindak kekerasan atas nama menegakkan syariat Islam,” katanya kepada NU Online di Jakarta, Rabu (16/5).

Menurut Vici, untuk mencegah aksi terorisme, kita perlu mengarahkan energi orang-orang yang memiliki kecenderungan terorisme ke arah yang lebih positif. 

“Tekan  dari dorongan agresi ke hal yang lebih positif agar tidak melakukan tindak kekerasan apalagi sampai melakukan bom bunuh diri,” ujar dosen Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama (Unusia) Jakarta ini.

Menurut Vici, secara ideologi seseorang yang telah memiliki pemahaman radikal akan sulit disadarkan. Akan tetapi, pemahaman tersebut jangan sampai melukai orang lain dan diri sendiri.

Mengamati keterlibatan istri dan anak dalam kasus terorisme di Surabaya Jawa Timur beberapa hari lalu, Vici menilai hal tersebut terjadi karena adanya kepatuhan istri kepada suaminya. Sayangnya, kepatuhan tersebut tanpa adanya diskusi, sehingga istri menurut saja kepada suaminya walaupun apa yang dilakukan suaminya tidak benar.

Pria yang semasa kuliah aktif di PMII UIN Sunan Gunungjati Bandung berpendapat, tidak tepat masyarakat menjauhi orang-orang yang terindikasi memiliki paham radikal. Pasalnya mereka yang sudah inklusif dengan pengajian kelompok radikal, akan semakin tertutup dan masyarakat semakin tidak tahu aktivitas mereka.

Pendekatan kepada orang-orang yang terindikasi memiliki paham radikal dapat dilakukan dengan pelibatan mereka dengan kegiatan sosial di lingkungan. Masyarakat Indonesia dikenal dengan pola gotong royong dan bekerjasama. Dalam masyarakat juga terdiri tidak hanya orang Islam atau satu kelompok.

“Keterlibatan mereka secara tidak langsung akan mendukung individu menjadi lebih moderat. Mereka akan paham bahwa individu itu beragam,” tegas Vici. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)