::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

OBITUARI

Mengenang Kiai Maghfur Usman

Jumat, 18 Mei 2018 05:00 Nasional

Bagikan

Mengenang Kiai Maghfur Usman
Kiai Maghfur Usman
Oleh Hamam Faizin

Sekitar pukul 15:00 WIB, Kamis (17/5) saya mendapatkan pesan whatsapp tentang kapundut (meninggalnya) Kiai Maghfur Usman. Beliau tidak hanya sosok kiai NU Indonesia, tetapi juga intelektual Muslim Indonesia yang mendedikasikan dirinya di negara Malaysia dan Brunei Darussalam. Kiprah intelektualnya sudah kelas internasional. Berikut adalah tulisan untuk mengenang sosok Kiai Maghfur Usman berdasarkan pengalaman saya dan informasi yang saya peroleh dari beliau.

Kalau tidak ke Jakarta, mungkin saya tidak mengenal Kiai Maghfur Usman. Tahun 2007 saya mendapatkan beasiswa S2 (Magister) di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta dari Kementerian Agama RI. Ketika berangkat ke Jakarta, bapak saya berpesan agar segera temui Kiai Maghfur Usman. “Kamu kalau di Jakarta jangan lupa ngenger (mengabdi) sama Kiai Maghfur,” pesan bapak saya.

Sudah masuk semester kedua saya masih belum berhasil bertemu dengan Kiai Maghfur. Alhamdulillah, di semester ketiga, beliau mengajar Ilmu Hadist di kelas saya di IIQ. Di situlah saya memperkenalkan diri kepada Kiai Maghfur, bahwa saya berasal dari Cepu. Saya juga menyampaikan salam bapak saya untuk beliau.

Setiap masuk kelas Ilmu Hadits, Kiai Maghfur selalu membawa koper besar, koper untuk bepergian. Isinya bukan pakaian, namun kitab-kitab hadist. Semua kitab-kitab yang ada di dalam koper dikeluarkan. Satu per satu ditunjukkan kepada para mahasiswa. Beliau menceritakan secara singkat kitab-kitab hadist tersebut. Dari penjelasan beliau, kami (para mahasiswa) mengetahui betapa luasnya ilmu hadits beliau.

Berawal dari kelas Ilmu Hadits, akhirnya saya mulai dekat dengan Kiai Maghfur. Beberapa kali Kiai Maghfur meminta saya untuk mengurusi tulisan-tulisannya untuk dijadikan bahan portofolio pengajuan guru besarnya. Dari file-file di laptop beliau saya mendapatkan data cukup banyak tentang beliau.

(Baca: NU Kembali Ditinggal Tokohnya, KH Maghfur Usman Wafat)
Terkait dengan Ilmu Hadist, Kiai Maghfur pernah menulis buku tipis Anotasi Kitab-kitab Hadits. Catatan singkat tentang identitas kitab hadits (anotasi) ini beliau kumpulkan ketika mengunjungi perpustakaan-perpustakaan di negara-negara yang pernah beliau kunjungi. Di perpustakaan tersebut, beliau mencatat kitab-kitab hadits yang ada. Kiai Maghfur pernah menuturkan kepada saya bahwa beliau sudah pernah berkunjung ke 27 negara. Sayang sekali Anotasi Kitab-kitab Hadits ini belum pernah diterbitkan.

Di kelas Ilmu Hadits, kami juga diberi pegangan diktat (belum menjadi buku) yang ditulis oleh Kiai Maghfur sendiri. Diktat tersebut berjudul Risalah fi Aqsamil Hadits, Risalah fi Takhrijil Hadits, dan Riwayatul Hadits Wa Ruwwatuh. Kelas kami di IIQ adalah kelas dengan pengantar perkuliahan bahasa Arab, sehingga beliau memberikan diktat yang berbahasa Arab. Ketiga kitab hadis tersebut, konon katanya, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Semenjak di kelas Ilmu Hadits inilah, saya mulai dekat dengan Kiai Maghfur. Beberapa kali saya diminta mendampingi beliau untuk acara-acara seminar. Bahkan saya meminta agar beliau menjadi pembimbing tesis saya. Ketika menyusun tesis berbahasa Arab di awal tahun 2008, saya beruntung sekali Kiai Maghfur berkenan menjadi pembimbing (musyrif) saya. Selain sudah kenal baik, beliau termasuk dosen yang sabar dalam membimbing dan tidak mempersulit mahasiswanya.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Staf Khusus Menteri Agama RI saat itu dan sebagai anggota Badan Wakaf Indonesia, saya tidak pernah bimbingan di Kampus IIQ. Namun, bimbingan kami berlangsung di rumahnya dan di Kantor Kementerian Agama lantai 2. Sore hari, saya diminta datang ke rumah, di Cibubur. Habis shalat maghrib saya diminta membeli makanan untuk makan malam bersama. Setelah makan, saya diminta membaca tesis saya, seperti sorogan ngaji kitab. Sembari beliau membetulkan tanda baca dan struktur kalimat yang tidak tepat serta kata-kata yang kurang tepat.

Setelah selesai sekitar puluhan halaman, beliau meminta saya berhenti dan istirahat untuk tidur. Saya diminta tidur di rumah beliau, agar besok paginya bisa berangkat bersama ke Kantor Kementerian Agama. Di lantai 2 Kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat, bimbingan berlanjut. Saya diminta membaca dengan keras tesis saya. Bimbingan yang unik dan khas pondok pesantren. Hal seperti ini—alhamdulillah—berulang dua kali. Setelah itu, beliau menyetujui tesis saya untuk diujikan. 

Sebagai mahasiswa bimbingannya, saya pernah diminta untuk mengurusi karya-karya beliau untuk persyaratan pengajuan guru besar. Sampai sekarang file-file tersebut masih saya simpan. Ketika membantu mengurus portofolio pengajuan Profesor atau Guru Besar Kiai Maghfur, sedikit banyak mengenal siapa beliau. Kiai Maghfur Usman lahir di Cepu 11 Januari 1944. Beliau sebaya dengan Gus Dur dan Gus Mus. Kiai Maghfur sering bercerita kepada saya, kalau Gus Dur pergi ke Brunei, pasti yang ditemui pertama kali adalah beliau.

Kiai Maghfur adalah anak dari KH Usman. KH Usman merupakan ulama penyebar ajaran Islam di Cepu, Jawa Tengah dan sekitarnya. Konon, Mukti Ali adalah salah satu muridnya. Pendidikan dasar Kiai Maghfur berawal di Madrasah Ibtidaiyyah Assalam Cepu pada tahun 1955. Assalam merupakan yayasan yang didirikan oleh keluarga besar Kiai Usman. Yayasan tersebut terdiri dari Pondok Pesantren, Madrasah Ibtidaiyah, SMP dan SMA.

Setelah lulus dari MI Assalam, Kiai Maghfur nyantri di TBS Kudus dari tahun 1956-1959. Tidak puas di Kudus, Kiai Maghfur nyantri lagi di Pesantren Bangilan Tuban  dari 1956-1960. Setelah itu, Kiai Maghfur nyantri di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh Rembang, pesantren ayahnya Gus Mus dari tahun 1960-1964. Tidak berhenti di sini, perjalanan intelektualnya diteruskan dengan nyantri di Pesantren Al-Hamidiyah Kudus dari tahun 1965-1968.  

Dari Pesantren al-Hamidiyyah, Kiai Maghfur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Agama Islam Jurusan Tarbiyah di Kudus Jawa Tengah (1964-1967). Tidak puas belajar di Indonesia, Kiai Maghfur pergi ke Saudi Arabia untuk mengambil S1 Syariah, Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah Arab Saudi dan lulus tahun 1973. Setelah lulus S1, Kiai Maghfur melanjutkan studi S2 di Fakultas Syariah dan Kajian Islam Universitas King Abdul Aziz, Saudi Arabia dan lulus tahun 1978. Tidak berhenti di S2, Kiai Maghfur melanjutkan studi lagi S3 di Fakultas Syariah dan Kajian Islam Universitas Ummul Qura Makkah, Saudi Arabia. 

Dari latar belakang pendidikannya, Kiai Maghfur adalah ilmuwan yang mumpuni. Oleh sebab itu, tidak heran apabila keilmuannya dimanfaatkan oleh banyak pihak. Sejak di Saudi Arabia, beliau sudah menjadi pengajar di Ma’had Darul Ulum Makkah (1976-1984). Dari sini saya melihat beliau termasuk kiai senior yang belajar di Saudi Arabia.

Ketika di sebuah perjalanan pulang ke Cepu untuk pengajian, Kiai Maghfur pernah bercerita begini: “Dulu Said Aqil Siroj (sekarang Ketum PBNU), kalau tidak paham ketika baca kitab, dia sering tanya ke saya." Ini artinya, bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Ummul Qura, Kiai Maghfur adalah sosok senior yang dihormati. Tidak hanya KH Said Aqil Siroj saja, tetapi almarhum KH Ali Mustofa Ya’qub pun juga.

Selepas lulus dari S3, Kiai Maghfur tidak pulang ke Indonesia. Konon alasannya adalah soal keamanan. Akhirnya, Kiai Maghfur merantau ke negeri jiran Malaysia dan menjadi dosen untuk S1 dan S2 di Institut Teknologi MARA (ITM) Selangor Malaysia (1984-1987). Setelah di Malaysia, Kiai Maghfur pindah ke Brunei Darussalam.

Di Brunei, Kiai Maghfur tidak hanya menjadi dosen, tetapi juga pernah menjabat sebagai dekan di Universitas Brunei Darussalam (1987-2001). Tidak hanya itu, Kiai Maghfur juga pernah menjadi Koordinator Ujian Matrikulasi Studi Islam Cambridge University Inggris untuk Brunei Darussalam (1988-1996). Yang keren lagi, selama di Brunei, Kiai Maghfur juga pernah menjadi Staf Ahli Menteri Pendidikan Brunei Darussalam (1992-1999). Dari perjalanan intelektual tersebut, tidak diragukan lagi bahwa Kiai Maghfur adalah Kiai Besar, Kiai Internasional. 

Beliau menikah dengan perempuan asal Malaysia, seorang pengusaha. Saya tidak mendapatkan informasi tentang nama istri dan kapan menikahnya. Saya hanya mengetahui bahwa Kiai Maghfur memiliki delapan anak. Sebagian besar anak-anaknya ikut dengan ibunya (istri Kiai Maghfur). Di antara putra-putrinya ada yang belajar di Amerika Serikat, Malaysia dan Australia. Saya hanya mengenal salah satu putranya, yakni Bilal.

Tahun 2001, Kiai Maghfur hijrah ke Indonesia dan menjadi dosen Pascasarjana di Universitas Paramadina dan Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Di Jakarta, Kiai Maghfur tinggal bersama Bilal, anaknya. Setelah lulus dari Australia, Bilal tinggal bersama Kiai Maghfur di Jatisempurna Cibubur. Bilal menikah dengan seorang gadis dari Bekasi. Bilal dan istrinyalah yang mendampingi Kiai Maghfur ketika di Jakarta. Ketika di Jakarta, Kiai Maghfur sudah sering sakit-sakitan. Mereka berdualah yang merawatnya. Anak-anak Kiai Maghfur lainnya ikut bersama istri Kiai Maghfur di Malaysia.

Di tahun 2005 bulan Februari, ketika Menteri Agama RI adalah Maftuh Basyuni, Kiai Maghfur diangkat sebagai Staf Khusus Menteri Agama untuk urusan Timur Tengah. Ketika konflik Sunni-Syiah berkecamuk, Kiai Maghfur sering diutus untuk urusan konflik ini. Sampai-sampai Kiai Maghfur menulis sebuah buku berjudul Nasy’ah Syiah. Di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Maghfur pernah menjadi Rais Syuriyah (2004-2010) dan menjadi Mustasyar (2010-2015).

Sejak hijrah di Indonesia mulai sekitar tahun 2003, Kiai Maghfur Usman sering diminta pulang ke Cepu, tempat kelahirannya. Sebulan sekali Kiai Maghfur mengisi acara pengajian di Masjid Jami Cepu. Beberapa kali saya diajak untuk menemani beliau. Ceramah-ceramah pengajiannya tersebut telah dibukukan dengan judul Mari Menebar Ukhuwah diterbitkan oleh Yayasan Takmir Masjid Kota Cepu (2007).

Setelah beberapa kali mengalami sakit dan operasi, kesehatan Kiai Maghfur mulai menurun. Aktivitas mengajarnya mulai berkurang. Akhirnya di tahun 2013, Kiai Maghfur hijrah ke Cepu, kembali ke kota kelahirannya untuk mengurus Pondok Pesantren Assalam dan masyarakat sekitarnya. 

Selain yang telah disebutkan di atas, berikut adalah karya-karya Kiai Maghfur Usman
1. Memberikan kata pengantar buku Tradisi Orang-orang NU karya H Munawwir Abdul Fattah, Yogyakarta: Pustaka Pesantren (2006)
2. Aafaatul Lisaan (Penyakit Lidah) (2005)
3. Aqidah Imam Syafi’i (2002)
4. Konsep Asas Dalam Pentadbiran Islam (2000)
5. Menyoroti Metodologi Pengajaran Membaca Al-Qur’an  (1999).
6. Perekonomian dalam Islam (1999)
7. Pemerintahan dalam Islam (1998)
8. Menilai Kembali Karya Sastera Islam di Nusantara (1997)
9. Kitab-Kitab dalam Bahasa Arab yang Ditulis oleh Ulama Nusantara (1995)
10. Konsep Kesultanan dalam Fiqih Mazhab Syafi’i (1994)
11. An-Nubuwwah wa ar-Risalah fi al-Islam (1994)
12. Manajemen Pesantren (1993)
13. Masa Depan Islam di Brunei Darussalam (1992)
14. Pelaksanaan Zakat di Brunei Darussalam (1989)
15. Pendidikan Islam di ITM (1985)
16. Al-Imam an-Nawawi wa Atsaruhu fi al-Fiqh (Tesis S1, 1973)
17. An-Nubuwwah wa Ar-Risalah fi al-Islam (Tesis S2, 1978)
18. At-Tabsyir wa Atsaruhu fi Indunisiya fi al-Qarn al-Rabi’ ‘Asyar al-Hijri (Disertasi, 1984).

*
Penulis adalah alumni MI Assalam dan IIQ Jakarta.