::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Mereka Berpuasa, Tapi Kena Kritik Rasulullah

Selasa, 22 Mei 2018 20:00 Nasional

Bagikan

Mereka Berpuasa, Tapi Kena Kritik Rasulullah
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Rabbani Cikeas KH Ali M Abdillah mengatakan, tujuan diwajibkannya puasa Ramadhan kepada umat Islam adalah agar mereka mendapatkan ketakwaan. Meski demikian, Nabi Muhammad mengatakan banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapatkan haus dan lapar saja, tidak ketakwaan.

“Hadist ini sebagai kritik terhadap orang yang melakukan puasa tapi yang diperoleh hanya rasa dahaga dan lapar, bukan menambah ketakwaan,” kata Kiai Ali kepada NU Online, Selasa (22/5).

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta ini menyebutkan, Imam al-Ghazali membagi orang yang berpuasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa umum. Orang yang berpuasa pada tingkatan ini hanya menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara lahiriah mereka sudah berpuasa dengan baik. Begitu pun secara fiqih.

“Tingkatan yang pertama ini, jika puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, maka dia tidak akan memperoleh ketakwaan sebab dia hanya berpuasa secara jasmani,” terangnya.

Kedua, puasa khusus. Mereka tidak hanya menjaga diri dari makan dan minum, tapi juga menjaga semua anggota badan dari segala maksiat. Orang yang sudah berada di tingkatan kedua ini akan lebih berhati-hati ketika bulan Ramadhan telah lewat. Akhlak mereka berubah menjadi lebih baik. 

“Puasa tingkatan kedua sudah mulai masuk ke dalam nafs (jiwa). Yang ditahan adalah gejolak-gejolak batiniah, nafsu-nafsu tercela,” jelasnya.

Ketiga, puasa khususul khusus. Orang yang sudah mencapai tingkatan ketiga ini pasti selalu mengingat Allah saat berpuasa. Tidak ada yang diingat kecuali Allah. Sayangnya, hanya sedikit orang yang mencapai tingkatan ini. Kebanyakan umat Islam yang berpuasa berada pada level pertama atau kedua. Tapi mereka harus terus berusaha untuk naik ke tingkatan yang ketiga.

“Kalau ini bisa dilakukan dengan riyadhah, mujahadah, kesungguhan, pasti efek yang akan kita rasakan berdampak nyata pada perubahan akhlak,” tuturnya. 

Ini lah yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an la’allakum tattaqun atau mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa,” sambungnya. 

Menurut dia, agar seorang yang berpuasa tidak hanya mendapatkan lapar dan haus maka dia harus meningkatkan kualitas puasanya menjadi yang ketiga, khususul khusus. 

“Artinya tidak sebatas puasa lahiriah, tapi juga harus ditingkatkan pada aspek batiniah,” tegasnya. (Muchlishon)