::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Muslim di Thailand Boleh Ibadah, Tapi Diawasi Ketat (1)

Ahad, 27 Mei 2018 13:30 Daerah

Bagikan

Muslim di Thailand Boleh Ibadah, Tapi Diawasi Ketat (1)
Jember, NU Online
Berbahagialah kelompok minoritas agama yang hidup di Indonesia. Sebab, mereka hidup aman dan damai, bahkan mendapat perlindungan dari umat Islam. Namun kedamaian serupa belum tentu dirasakan umat Islam yang menjadi minoritas di negara lain.

Bahkan bisa jadi sebaliknya. Mereka ketakutan dan bahaya senantiasa mengincar. “Kenapa umat minoritas di Indonesia aman? Jawabnnya satu: karena muslim di Indonesia menjadi mayoritas. Titik,” kata Direktur Nuris International Offiice, Imam Sainusi kepada NU Online. Hal itu disampaikannya dalam sebuah kesempatan wawancara di kompleks Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, Sabtu (26/5).

Alumni Universitas Jember tersebut mengaku  punya pengalaman menarik saat berkunjung ke Thailand, belum lama ini. Menurutnya, Thailand Selatan, khususnya Pattani, Yala dan Narathiwat merupakan daerah yang dihuni cukup banyak Muslim. 

Di Thailand, umat Islam diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah, namun pengawasannya cukup ketat. “Bisa dikatakan bebas, tapi tidak bebas seperti di Indonesia,” jelasnya.

Sekedar memberi contoh, saat umat Islam melaksanakan shalat Jumat, di sekitar masjid dijaga aparat keamanan dengan senjata lengkap. Tidak hanya itu, bagi jamaah yang membawa motor, maka  selama diparkir, posisi jok harus dibuka. Di luar itu, di jalan umum setiap tiga kilometer didirikan pos pemeriksaan. Jangan coba-coba Muslim bertingkah melawan penguasa, akibatnya bisa fatal. 

Menurut Imam Sainusi, pengawasan yang demikan ketat itu menunjukkan bahwa penguasa Thailand menyimpan kecurigaan yang dalam terkait keberadaan umat Islam. “Padahal Muslim di situ tidak pernah macam-macam. Kalaupun dulu pernah terjadi konflik dengan tentara, itu karena reaksi, bukan aksi,” jelasnya. 

Walaupun demikian, Islam di kawasan itu tetap berkembang. Tidak sedikit pemuda Muslim setempat yang  menempuh pendidikan tinggi di Timur Tengah dan negara-negara Asia, termasuk Indonesia. “Meski dalam kondisi tertekan, mereka tetap berjuang untuk agamanya walau risikonya sangat besar,” urainya (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)