NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Santri Pesantren Buntet Pelopori Pengelolaan Sampah

Senin, 28 Mei 2018 18:00 Lingkungan

Bagikan

Cara Santri Pesantren Buntet Pelopori Pengelolaan Sampah
Santri Buntet Cirebon kelola sampah jadi BBM
Cirebon, NU Online
Cirebon tengah berada di ujung tanduk untuk persoalan sampah. Terlebih, 30 Mei 2018 nanti menjadi tenggat waktu terakhir beroperasinya TPA Ciledug yang merupakan TPA satu-satunya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Di tengah makin mendesaknya keberadaan lahan TPA, seorang santri di Komplek Buntet Pesantren datang menawarkan solusi. Dia sudah beberapa tahun ini melakukan uji coba pengolahan sampah secara mandiri untuk mengatasi masalah sampah, terutama sampah plastik.

Dia adalah Muhammad Majdi yang mengaku sudah sejak 2013 mulai melakukan pengolahan sampah secara mandiri, meskipun saat ini masih dengan skala kecil.

"Awalnya saya prihatin, kepedulian kita akan sampah dan lingkungan begitu kurang. Saya pun saat itu sebagai santri tertantang untuk bisa berbuat lebih untuk membantu mengatasi persoalan sampah," ujarnya.

Dikutip dari radarpekalongan.co.id, Lulusan IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang kini tengah sibuk menyelesaikan pendidikan S3-nya tersebut, menyempatkan diri untuk mengelola dan mengatasi persoalan sampah yang ada di lingkungannya, meski hal tersebut masih dilakukan dengan biaya sendiri.

"Saya sekolah jurusan pendidikan biologi. Ilmu yang saya dapatkan harus saya implementasikan untuk membantu dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat," imbuhnya Ahad (27/5).

Majdi sendiri kemudian membuat alat dengan barang-barang sederhana dan bekas pakai untuk bisa mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. 

"Ini sebenarnya bukan barang baru. Di Jepang sudah digunakan sejak lama. Ini efektif untuk mengatasi sampah plastik. Tapi tidak semua sampah bisa diolah. Ada beberapa kategori yang bisa diolah menjadi BBM, ada juga yang diolah ke dalam bentuk lain," jelasnya.

Secara teknis, Majdi menyebutkan jika sampah-sampah yang diterima dari masyarakat harus dipilah-pilah terlebih dahulu, agar BBM yang dihasilkan bermutu dan berkualitas bagus. Sampah plastik tersebut harus bebas dari unsur kertas, tanah dan lain-lainnya.

"Makanya, kita siapkan bak atau ember cuci. Sampah plastik yang kita terima, dibersihkan dan kemudian dikeringkan. Yang terpenting sampah plastik ini harus dipilah-pilah dulu. Yang bisa untuk membuat BBM itu yang plastik bening atau plastik kresek. Sementara plastik-plastik seperti bekas minuman kemasan, bungkus kopi dan sampah plastik yang banyak gambar tidak bisa karena kadar kertas dan lain-lainnya tinggi," paparnya.

Sampah-sampah plastik yang sudah dipilah, dicuci dan dijemur tersebut, kemudian diletakkan ke dalam alat yang sudah dimodifikasi berupa kaleng yang diberikan penutup, dan diberikan selang penyulingan. Sementara kaleng tersebut diletakan di atas tungku dan kemudian dibakar.

"Cara ini untuk melelehkan plastik. Setelah meleleh, nanti baru terpisah kandungan plastiknya. Ada residu yang mengendap, sementara minyaknya teralirkan melalui selang, dan kemudian masuk ke dalam penampung yang terbuat dari botol," katanya.

Untuk setiap kilogram sampah plastik, Majdi mampu memproduksi minyak kurang lebih sampai setengah liter. Diakuinya, biaya yang dikeluarkan untuk memproses sampah tersebut menjadi minyak lebih besar ketimbang nilai ekonomis minyaknya sendiri.

"Kendalanya itu, biaya untuk membakar dan memproses sampah plastik menjadi minyak ini lebih mahal, ketimbang minyaknya sendiri. Jadi, kalau hitung-hitungannya untuk usaha dan mencari nilai ekonomis gak akan ketemu. Ini harusnya untuk program penanggulangan sampah plastik," tambahnya.

Setiap harinya, sampah-sampah yang dihasilkan masyarakat sebagian besar adalah sampah plastik yang akan sangat lama membutuhkan waktu untuk terurai. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan penanganan, sampah-sampah tersebut menjadi masalah yang nantinya akan sulit ditangani.

"Setiap hari manusia itu memproduksi sampah plastik setidaknya 70 sampai 80 persen. Sisanya adalah sampah-sampah organik seperti sisa makanan, minuman dan lain-lain. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana bisa mengurangi volume sampah plastik ini agar tidak menimbulkan masalah," tukasnya.

Di akhir pembicaraan, Majdi menegaskan jika seluruh hal yang dilakukan tersebut tidak akan berarti apa-apa, jika kesadaran masyarakat tidak dibangun dan diperbaiki. Menurutnya, masyarakat menjadi elemen penting dari pengelolaan dan penanganan sampah di Kabupaten Cirebon. (Red: Muiz)