NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengagumi Kemegahan Menara NU, Warisan Mbah Umar Tumbu

Selasa, 29 Mei 2018 14:00 Fragmen

Bagikan

Mengagumi Kemegahan Menara NU, Warisan Mbah Umar Tumbu
Menara NU di Pacitan
Destinasi wisata alam yang ada di Pacitan Jawa Timur seperti tidak pernah ada habisnya untuk dinikmati. Selain panorama alam yang indah,  di Kabupaten yang berjuluk Kota 1001 Goa ini ternyata memiliki obyek wisata religi yang tidak kalah menarik untuk didatangi, yaitu Menara NU.

Menara ini berdiri di atas lahan 1900 meter, di sebuah desa bernama Jajar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Untuk sampai ke sana, dapat melewati jalan raya Pacitan-Solo. 

Keberadaan menara NU ini sangat lekat dengan tokoh penyebar syiar Islam ala NU di Pacitan, KH Umar Syahid atau Mbah Umar Tumbu. Selain meninggalkan warisan semangat untuk menjaga persatuan, Mbah Umar yang wafat pada 4 Januari 2017 lalu juga mewariskan sebuah menara NU.

Menara megah setinggi 17 meter yang didominasi warna hijau tua ini dirancang dan dibangun oleh Mbah Umar Tumbu. Dari dasar hingga puncaknya tertera logo NU serta tak lupa bendera Merah Putih. Angka 17 sendiri melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia.

Memasuki area menara, terdapat sebuah gerbang yang dibangun dari batu bata bergaya Jawa dan diatasnya terdapat sebuah tulisan ayat Al-Qur'an.

Dari informasi yang dikumpulkan NU Online, Senin (28/5), Menara NU tersebut merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Menara yang selesai pembangunannya diresmikan oleh  Habib Luthfi bin Yahya pada 15 Agustus 2015 ini juga merupakan mercusuar, agar kapal yang lewat, agama lain, dan ideologi lain tidak menabrak bumi NU ini. Kalau kapal sampai menabrak bumi nusantara bisa pecah dan tenggelam karena yang ditabrak adalah karang.

Mungkin apa yang dilakukan oleh Mbah Umar dengan membangun menara ini, oleh orang lain akan dianggap perbuatan sia-sia,  mengerjakan sesuatu yang tak jelas manfaatnya karena di pedalaman yang jarang dilihat dan didatangi orang.  Tapi Mbah Umar sedang membuat mercusuar untuk memberi kabar pada dunia bahwa NU masih ada walaupun sekian lama ditindas orang.

Mbah Umar Tumbu wafat dalam usia 114 tahun. Namun ada yang menyebut, usiannya 132 Tahun. Pada masa remajanya, ia menjadi murid KH Dimyathi Abdullah di Pesantren Tremas Pacitan. 

Di kalangan masyarakat Pancitan, Mbah Umar dikenal sebagai kiai pelayan umat, dermawan, lemah lembut. Semasa muda hidup berkelana dengan jualan tumbu (wadah dari anyaman bambu) dan membangun masjid, mengabdi pada NU tanpa batas, dan selalu mengajak kepada kaum muslim agar senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan.

Menara NU warisan Mbah Umar kini menjadi destinasi wisata religi baru di Pacitan. Apalagi saat bulan Ramadhan. Menara ini bisa dijadikan jujugan sambil menunggu waktu maghrib tiba. Karena menara ini dibangun di atas daerah berbukit, begitu berada di puncak menara dapat menyaksikan keindahan daerah itu dari ketinggian di segala arah.

Selain menara NU, Mbah Umar Tumbu juga meninggalkan sebuah bangunan pendopo yang kini diwakafkan kepada warga NU. Bangunan ini terbuka 24 jam bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. 

Di area tersebut juga terdapat makam Mbah Umar Tumbu. Tepatnya di belakang masjid Desa Jajar. Bila anda berkunjung ke Pacitan, jangan lupa untuk berziarah ke makam Mbah Umar dan mengunjungi menara NU itu. (Zaenal Faizin)