::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa

Sabtu, 02 Juni 2018 20:15 Ramadhan

Bagikan

Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa
Ilustrasi (© kayipazar.com)
Puasa merupakan satu dari beberapa ibadah yang spesial. Puasa memiliki pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi. Besarnya pahala puasa hanya Allah yang mengetahuinya, saat amal-amal ibadah lain diketahui kadar pahalanya. Puasa menjadi benteng dari api neraka. Semakin puasa dijalani dengan adab-adabnya, semakin besar pula peluang puasa tersebut diterima. Lantas, bagaimana tanda puasa diterima?

Perlu dijelaskan terlebih dahulu apa maksud puasa diterima. Dari sudut pandang hukum legal formal fiqih, puasa yang dijalani sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka sah dan cukup untuk menggugurkan kewajiban, meski dilakukan dengan banyak menggunjing, banyak nyinyir, berkata dusta, masih gemar mencaci maki, gemar menyebar berita hoaks dan perbuatan buruk lainnya. Namun, sesungguhnya puasa tersebut tidak berarti apa-apa kecuali menggugurkan kewajiban qadla’. Sebab, sah secara fiqih bukan berarti puasa tersebut diterima di sisi Allah dan berpahala.

Dari itu, Nabi bersabda:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الظمأ

“Banyak orang berpuasa, tidak ada dari puasanya selain haus.” (HR ad-Darimi, an-Nasai, dan lainnya)

Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah al-Mubarakfauri menjelaskan hadits di atas dengan komentarnya sebagai berikut:

 كم من صائم ليس له) أي حاصل أو حظ (من صيامه) أي من أجله (إلا الظمأ) بالرفع أي العطش ونحوه من الجوع يعني ليس لصومه قبول عند الله فلا ثواب له ، نعم سقوط التكليف عن الذمة حاصل عند العلماء

“Banyak orang berpuasa tiada bagian yang dihasilkan dari puasanya kecuali haus dan lapar. Maksud Nabi, puasanya tidak diterima di sisi Allah, sehingga tidak mendapat pahala sama sekali. Namun demikian, gugurnya tuntutan dari tanggung jawab fiqih seseorang telah terpenuhi menurut para ulama.” (Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah bin al-‘Allamah Muhammad Abdissalam al-Mubarakfauri, Mir’at al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Juz 6, halaman 1053)

Puasa yang diterima tidak sebatas menahan syahwat perut dan kemaluan (makan, minum, dan bersenggama). Namun juga dengan menjaga mata, lisan, telinga, kaki, mulut, tangan dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang dilarang Allah, sehingga dapat mencapai maksud tujuan puasa yaitu, meneladani sifat shamadiyyah Allah dan mengikuti perilaku malaikat dalam hal mencegah diri dari syahwat-syahwat dengan segenap kemampuan.

Yang dimaksud dengan sifat shamadiyyah adalah tidak membutuhkan orang lain melainkan sebaliknya: dibutuhkan oleh mereka. Orang yang berpuasa dilatih untuk melepas ketergantungan kepada selain-Nya, tidak menjadi hamba hawa nafsunya, hamba uang, hamba kekuasaan, hamba jabatan dan lain sebagainya.

Al-Imam al-Ghazali mengatakan:

فأما علماء الآخرة فيعنون بالصحة القبول وبالقبول الوصول إلى المقصود ويفهمون أن المقصود من الصوم التخلق بخلق من أخلاق الله عز و جل وهو الصمدية والاقتداء بالملائكة في الكف عن الشهوات بحسب الإمكان فإنهم منزهون عن الشهوات، والإنسان رتبته فوق رتبة البهائم لقدرته بنور العقل على كسر شهوته ودون رتبة الملائكة لاستيلاء الشهوات عليه وكونه مبتلى بمجاهدتها فكلما انهمك في الشهوات انحط إلى أسفل السافلين والتحق بغمار البهائم وكلما قمع الشهوات ارتفع إلى أعلى عليين والتحق بأفق الملائكة، والملائكة مقربون من الله عز و جل والذي يقتدى بهم ويتشبه بأخلاقهم يقرب من الله عز و جل كقربهم فإن الشبيه من القريب قريب وليس القريب ثم بالمكان بل بالصفات

“Ulama akhirat menghendaki sahnya puasa dengan diterima, dan yang dimaksud diterima adalah sampai kepada tujuan puasa yaitu meneladani satu dari beberapa sifat-sifat Allah yaitu ‘shamadiyyah’ dan mengikuti perilaku malaikat dengan mencegah diri dari beberapa syahwat dengan segenap kemampuan, sesungguhnya mereka dibersihkan dari syahwat-syahwat. Derajat manusia di atas binatang-binatang karena kemampuan berakalnya dapat mencegah syahwatnya dan di bawah derajat malaikat karena syahwat dapat menguasainya dan ia diberi cobaan untuk memeranginya. Saat manusia asyik terlena dengan syahwat-syahwat, ia turun kasta di dasar yang paling dasar menyusul kelompok binatang-binatang. Saat manusia mampu menahan syahwatnya, ia naik di atas derajat tertinggi menyusul wilayah para malaikat. Para malaikat didekatkan di sisi Allah. Orang yang mengikuti dan berperilaku seperti mereka, ia dekat dengan Allah seperti kedekatan mereka, sesungguhnya orang yang menyerupai orang dekat, ia juga dekat. Kedekatan di sisiNya bukan diukur dengan tempat, namun dengan sifat.” (Hujjah al-Islam Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz 1, halaman 236)

Semoga puasa kita tidak sebatas menjalankan hukum legal formal fiqih, namun juga dapat meneladani sifat Allah dan para malaikat-Nya. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)