::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Cara Mengatasi Informasi Hoaks dalam Islam

Sabtu, 09 Juni 2018 22:02 Hikmah

Bagikan

Cara Mengatasi Informasi Hoaks dalam Islam
Pengasuh Pondok Pesantren Qoshrul Arifin Kasepuhan Atas Angin, Cikoneng, Ciamis Hadratussyekh KH M. Irfa’i Nahrawi An-Naqsyabandi qs, dalam menjawab fenomena ledakan fitnah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan adanya media sosial, mengajak kita untuk kembali mengikuti langkah-langkah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang berlandaskan pada Al-Quran.

Menurut beliau, dalam Islam sudah sempurna tuntunannya, termasuk dalam hal mengelola dan memverifikasi lalu lintas informasi pada sumber-sumber yang legitimate dalam kehidupan sosial politik agar tidak justru berujung pada kerusakan dan perpecahan di antara masyarakat.

“Dalam menghadapi kemajuan media sosial dalam iklim (sosial-politik) yang panas mestinya kita harus waspada dan berjuang jangan sampai pos-pos media sosial dijadikan sebagai pangkalan setan,” pesan beliau kepada para peserta pengajian Ramadhan beberapa waktu lalu. 

“Mestinya kita tahu siapa setan itu, misi setan tidak lain hanya untuk mengajak umat manusia berbuat keji dan mungkar, menebarkan kebencian dan permusuhan. Jangan bebaskan kampanye setan dalam propagandanya untuk memporak-porandakan persatuan dan kesatuan (persaudaraan) kita dalam kehidupan beragama dan berbangsa.”

Demikian, beliau mengajak agar umat Islam memahami Al-Qur’an secara mendalam agar tidak terjebak pada pemahaman-pemahan yang tekstualis dan kaku.

“Saudaraku kaum muslimin, tidak perlu kita berdebat tentang hukum dan kebenaran, Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan dan pelita bagi hidup kita. Pahami Al-Qur’an secara mendalam. Di dalam setiap huruf-hurufnya, kalimat maupun ungkapannya tidak ada ikhtilaf dalam memutuskan perkara ambilah yang muhkam (yang berkandungkan hukum yang jelas), yang mutasyabih tanyakan kepada ahlinya. Jangan ikuti hawa nafsu dan mengambil putusan hukum dengan megadukan yang muhkam dengan yang mutasyabih,” lanjutnya, sembari mengutip Surat An-Nisa ayat 82.

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً
 
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Kemudian beliau melanjutkan pada ayat berikutnya (An-Nisa ayat 83) yang memberikan petunjuk yang bahkan sangat teknis dan terperinci tentang bagaimana kita seharusnya mengelola informasi agar selalu memverifikasi informasi pada sumber-sumber yang legitimate dan penanggung jawab di setiap institusi:

وَإِذا جاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya (memviralkannya). Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”

“Mari kita belajar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi untuk mensikapi membanjirnya berita dari banyaknya media sosial agar kita selamat dari propaganda setan dan agar setiap berita bernilai positif (menambahkan pengetahuan) kita. Bila kita mendengar berita jangan langsung diviralkan, gali dulu (istimbath) kebenaran dan keakuratannya. Tanyakan kepada beliau Rasul dan ulil amri (tokoh, pemimpin, atau pengasuh yang memiliki wewenang dan keahlian dalam bidangnya.” Beliau mengajak agar mengambil contoh pada Nabi Muhammad SAW.

“Suatu contoh bila suatu berita membicarakan suatu pondok pesantren, gali kebenarannya lewat pengasuh pondok pesantren tersebut, bila berita itu berhubungan dengan (pemerintahan) atau dalam ranah kepolisian maka tanyakan kepada ulil amrinya atau komandannya, dan seterusnya. Bila tidak demikian, maka akan banyak di antara kita menjadi mangsa setan dan terjerumus dalam jurang pertikaian dalam perpecahan yang tiada hentinya. Sayangilah diri kita, sayangilah keluarga dan sayangilah bangsa kita ini,” beliau menekankan.

Beliau menunjukkan betapa luasnya cakupan tuntunan Islam dalam menghadapi fenomena apapun dalam kehidupan ini. Bahkan, dalam ayat tersebut Rasulullah seperti telah memberikan antisipasi terkait institusi-institusi keagamaan (Rasul) dan institusi kepemerintahan (Ulil Amri) yang kini telah memiliki otonominya masing-masing. Yang dituntut dari kita hanyalah konsistensi untuk selalu menjadikannya pedoman dengan pemahaman yang mendalam. Beliau menutup nasihat-nasihatnya dengan doa:

اللهم افتح بيننا وبينا قومنا بالحق وانت خير الفاتحين يا فتاح يا عليم

(Fuad Athor)