::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jenis Puasa yang Harus Segera Diqadha dan Bisa Ditunda

Senin, 18 Juni 2018 17:01 Puasa

Bagikan

Jenis Puasa yang Harus Segera Diqadha dan Bisa Ditunda
Puasa wajib yang telah ditinggalkan memang sebaiknya diqadha segera selagi ada kesempatan. Tetapi sesungguhnya ada puasa wajib harus segera diqadha dan ada puasa wajib yang bisa ditunda perihal qadhanya. Keduanya dibedakan dari segi kondisi pembatalannya waktu lalu. Hal ini jelaskan dalam Kitab Kifayatul Akhyar berikut ini:

والقضاء الذي على الفور هو الذي تعدى فيه بالإفطار فيحرم تأخير قضائه والذي على التراخي ما لم يتعد فيه كالفطر بالمرض والسفر وقضاؤه على التراخي ما لم يحضر رمضان آخر

Artinya, “Puasa yang harus segera diqadha adalah puasa yang diabaikan, yaitu dibatalkan (sengaja tanpa udzur). Qadha puasa seperti ini haram ditunda-tunda. Sementara puasa yang tidak harus segera diqadha adalah puasa yang tidak diabaikan, yaitu pembatalan puasa karena sakit atau perjalanan Qadha puasa seperti ini boleh ditunda selagi belum datang ramadhan selanjutnya,” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 174).

Dari jelas bahwa puasa ramadhan yang dibatalkan tanpa udzur wajib diqadha sesegera mungkin. Karena, puasa tersebut dibatalkan sebagai bentuk kelalaiannya yang harus segera diqadha. Sedangkan mereka yang tengah mengqadha puasa tidak boleh membatalkannya di tengah jalan. Mereka harus merampungkan puasanya hingga selesai, maghrib tiba sebagai keterangan Kifayatul Akhyar berikut ini:

ومن شرع في صوم القضاء فإن كان على الفور لم يجز الخروج منه وإن كان على التراخي فالصحيح ونص الشافعي في الأم أنه لا يجوز لأنه تلبس بفرض ولا عذر فلزمه إتمامه كما لو شرع في الصلاة في أول الوقت لا يجوز له قطعها

Artinya, “Orang yang sedang mengqadha puasa–jika itu termasuk puasa yang harus segara diqadha–tidak boleh membatalkannya. Tetapi jika itu termasuk puasa yang tidak harus segara diqadha, maka menurut pendapat yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm, seseorang tidak boleh membatalkannya karena puasa qadha itu sejenis dengan puasa wajib dan tidak ada udzur untuk itu sehingga ia harus merampungkan puasanya hingga maghrib. Logikanya serupa dengan orang yang shalat di awal waktu. Orang ini tidak boleh membatalkan shalatnya,” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 174).

Meskipun demikian, puasa yang harus segera diqadha maupun yang bisa ditunda perihal qadhanya tetap tidak boleh lalai untuk mengqadhanya sebelum Ramadhan berikutnya tidak. Kalau utang puasa wajib itu tidak sempat diqadha tanpa udzur tertentu, maka ia wajib mengqadhanya setelah Ramadhan berikut berakhir dan wajib membayar fidyah sebagai keterangan Kasyifatus Saja berikut ini:

والثاني الإفطار مع تأخير قضاء) شىء من رمضان (مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر) لخبر من أدرك رمضان فأفطر لمرض ثم صح ولم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدركه ثم يقضي ما عليه ثم يطعم عن كل يوم مسكينا رواه الدارقطني والبيهقي فخرج بالإمكان من استمر به السفر أو المرض حتى أتى رمضان آخر أو أخر لنسيان أو جهل بحرمة التأخير. وإن كان مخالطا للعلماء لخفاء ذلك لا بالفدية فلا يعذر لجهله بها نظير من علم حرمة التنحنح وجهل البطلان بهواعلم أن الفدية تتكر بتكرر السنين وتستقر في ذمة من لزمته.

Artinya, “(Kedua [yang wajib qadha dan fidyah] adalah ketiadaan puasa dengan menunda qadha) puasa Ramadhan (padahal memiliki kesempatan hingga Ramadhan berikutnya tiba) didasarkan pada hadits, ‘Siapa saja mengalami Ramadhan, lalu tidak berpuasa karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadhan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadhan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang puasanya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarah,’ HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi. Di luar kategori ‘memiliki kesempatan’ adalah orang yang senantiasa bersafari (seperti pelaut), orang sakit hingga Ramadhan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha. Tetapi kalau ia hidup membaur dengan ulama karena samarnya masalah itu tanpa fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk uzur. Alasan seperti ini tak bisa diterima; sama halnya dengan orang yang mengetahui keharaman berdehem (saat shalat), tetapi tidak tahu batal shalat karenanya. Asal tahu, beban fidyah itu terus muncul seiring pergantian tahun dan tetap menjadi tanggungan orang yang yang berutang (sebelum dilunasi),” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja, Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa‘ad bin Nabhan, tanpa tahun, halaman 114).

Mereka yang lalai mengqadha puasa wajib mengqadha dan juga membayar fidyah sebesar satu mud untuk satu hari utang puasanya. Satu mud setara dengan 543 gram menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran dengan 815,39 gram bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.

Kami menyarankan mereka yang memiliki utang puasa untuk segera mengqadhanya selagi sempat, tanpa menunda-nunda. Wallahul a‘lam. (Alhafiz K)