: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARI KOPERASI

Ada Koperasi di Masa Awal NU Berdiri

Kamis, 12 Juli 2018 23:40 Fragmen

Bagikan

Ada Koperasi di Masa Awal NU Berdiri
Tiap tanggal 12 Juli Indonesia memperingati Hari Koperasi. Tanggal tersebut diambil sebagai hari koperasi karena mengingatkan pada kongres koperasi pertama tahun 1947 di Tasikmalaya. 

Pada saat masih Hindia Belanda, bibit-bibit dan upaya menuju gerakan koperasi telah tumbuh. Tokohnya adalah Raden Bei Aria Wirjaatmadja. Pada 1855, ketika ia berusia 21 tahun bekerja menjadi juru tulis kontrolir Belanda di Banjarnegara. Jabatan dan karirinya terus meningkat sehingga menjabat sebagai Patih Purwokerto pada 1879. Jabatan ini dipegang hingga pensiun pada tahun 1907. 

Ia adalah orang yang berusaha mendirikan bank untuk pegawai pribummi. 

***

Di masa pertumbuhan NU, yaitu sekitar 1929, para kiai bersepakat mendirikan Coperatie Kaoem Moeslimin (CKM). Itu berarti setelah tiga tahun NU berdiri. 

Meski tujuan utama NU adalah memperkuat kalangan bermazhab, nyata-nyatanya, tiga tahun berdiri telah membentuk koperasi, sebuah upaya dalam ekonomi. Ini tidak mengherankan karena sebelum NU berdiri telah berdiri Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para pedangang). 

Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, CKM berpusat di Pacarkeling Surabaya atas inisiator KH Abdulhalim Leuwimunding.

Peraturan CKM mengenai pembagian keuntungan, misalnya, dibagi lima bagian: 40 persen untuk pegawai (penjual), 15 persen untuk pemilik modal, 25 persen untuk menambah kapital (berarti pemilik modal mendapat bagian 4O persen), 5 persen untuk juru komisi (iuru tulis) dan 15 persen untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 

Apa yang terurai di atas, baik mengenai pendidikan, masalah sosial maupun dakwah, adalah sekedar contoh bagi usaha-usaha yang ditempuh NU di masa perintisannya. (Abdullah Alawi)