: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gejala Radikalisme Masjid Pemerintah Masih Tinggi

Senin, 09 Juli 2018 00:00 Nasional

Bagikan

Gejala Radikalisme Masjid Pemerintah Masih Tinggi
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Gejala radikalisme dan radikalisasi di masjid-masjid pemerintah (kementerian, lembaga dan BUMN) masih tinggi. Hal itu terlihat dari 41 di antara 100 masjid pemerintah terindikasi paham radikal.

Demikian salah satu kesimpulan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan pada tahun 2017 tentang materi khutbah radikal di masjid negara. 

Pada hasil penelitian yang dipaparkan kepada wartawan di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Ahad (8/7) juga dinyatakan masjid-masjid BUMN adalah masjid yang paling rentan terhadap penyusupan kelompok radikal. Terbukti, dari 37 masjid yang disurvei, lebih dari separuhnya terindikasi radikal.

(Baca: Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah)
Dari segi prosentase, masjid-masjid lembaga paling kecil (29 persen) terindikasi paham radikal, tetapi intensitasnya cukup tinggi. Dari delapan masjid yang terindikasi radikal, enam di antaranya (75%) masuk kategori radikal tinggi.

Selain itu, masjid-masjid kementerian juga patut diwaspadai. Meski sebagian besar masuk kategori radikal rendah (41 persen) namun yang masuk kategori radikal tinggi juga cukup signifikan yakni mencapai 33 persen. 

Tingginya gejala radikalisasi di masjid-masjid kementerian, lembaga dan BUMN menunjukkan pemerintah sepertinya kurang peduli terhadap masjid-masjid yang secara struktural berada di bawah mereka.

Ketua Dewan Pengawas P3M Jakarta, Agus Muhammad menegaskan hasil penelitian tersebut baru sebatas indikasi, belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang sebenarnya. “Bisa jadi masjid-masjid yang terindikasi radikal tersebut sesungguhnya moderat karena yang dianalisis hanyalah khutbah Jumat,” ujarnya.

(Baca: PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah)

Akan tetapi, temuan ini juga bisa dibaca sebaliknya, bahwa fakta yang sesungguhnya lebih radikal dari temuan di lapangan. “Itulah sebabnya penelitian ini perlu didalami untuk mendapatkan fakta yang lebih empiris,” tambahnya.

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 

Penelitian dilakukan dengan cara setiap masjid didatangi oleh satu orang relawan untuk merekam khutbah dan mengambil gambar brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan inilah yang dijadikan acuan untuk menilai apakah masjid tersebut terindikasi radikal atau tidak.

Meskipun masjid-masjid tersebut membawa simbol negara, para takmir masjid dan penentuan khatib Jumat ditemukan mempunyai pandangan keagamaan yang cenderung ekstrem.

Direktur Rumah Kebangsaa, Erika Widyaningsih menegaskan penelitian tersebut untuk menjawab pertanyaan sejauh mana potensi radikalisme di masjid-masjid Kementrian, Lembaga dan BUMN melalui materi khutbah. Materi khutbah mencerminkan sikap/haluan/pandangan keagamaan para pengurus masjidnya (takmir). Para khatib yang dipilih/ditentukan oleh takmir masjid mencerminkan pandangan keagamaan masjid tersebut. (Kendi Setiawan)