::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gagal Paham Islam Nusantara Diluruskan IAIN Tulungagung

Selasa, 10 Juli 2018 18:30 Nasional

Bagikan

Gagal Paham Islam Nusantara Diluruskan IAIN Tulungagung
Diskusi Islam Nusantara C-Finus IAIN Tulungagung
Tulungagung, NU Online
Saat ini, Islam Nusantara merupakan topik yang aktual diperbincangkan di tengah masyarakat. Hanya saja, ada sebagian orang yang salah faham tentang istilah dimaksud. Mereka menuduh Islam Nusantara sebagai madzhab baru, anti-Arab, bidah, dan sesat.

Fenomena tersebut memancing Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung, Jawa Timur melalui Center of Fikih Nusantara (C-Finus) berkomitmen memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang Islam Nusantara, terutama dalam ranah ilmu Fikih, agar mereka tidak salah faham tentang istilah tersebut.

Direktur C-Finus, Arifah Millati Agustina, menuturkan C-Finus didirikan untuk menggiatkan penelitian dan riset tentang Islam Nusantara, khususnya kajian Fikih. "Kita merekrut dosen dan mahasiswa yang punya komitmen dan semangat untuk meneliti dan menulis, dalam pusat kajian ini," ujar Arifah, Senin (9/7).

Ia menyebut kegiatan utama dari pusat kajian ini adalah penelitian, di mana mereka melakukan riset mendalam tentang suatu tema kemudian menuliskannya dalam sebuah artikel ilmiah. "Artikel itu lalu di-review oleh tim. Dan artikel yang memenuhi standar akan dipublikasikan di website, terutama website kampus. Jadi, bukan sekedar diskusi saja," tambahnya.

Agar penelitian yang mereka lakukan berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, terlebih dahulu anggota C-Finus diberi bekal teknik penelitian dan teknik kepenulisan. “Beberapa waktu lalu, kami mengundang narasumber dari luar, di antaranya Bapak Abdul Mun’im DZ, untuk membekali mereka tata cara penelitian ilmiah," ujar perempuan yang aktif di Fatayat NU Nganjuk ini.

Husnul Haq, dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung menegaskan bahwa keberadaan C-Finus sangat positif untuk memberi pencerahan dan menyuguhkan pemahaman komprehensif kepada masyarakat tentang Islam Nusantara.

“Saat ini, banyak orang yang ‘gagal paham’ tentang Islam Nusantara. Meraka beranggapan bahwa Islam Nusantara itu identik dengan Islam kejawen, yang ingin mengganti Al-Qur’an dan hadist dengan kitab Gatoloco atau Darmo Gandul, mengganti bahasa Arab dengan Honocoroko, mengganti kopiah dengan blangkon. (Padahal faktanya) tidak begitu," ujarnya.

Ia menegaskan Islam Nusantara adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, dan interpretasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia.

"Jadi, Islam Nusantara bukan mazhab, melainkan sebagai tipologi dan khashais, yaitu Islam yang santun, toleran, dan berperadaban," sambungnya.

Dosen yang juga pengurus LDNU Jombang ini berharap agar C-Finus dapat menghasilkan peneliti-peneliti handal yang turut mewarnai dinamika penelitian nasional dan internasional. Selain itu agar berkontribusi menyebarkan konsep Islam Nusantara terutama dalam ranah Fikih. "Agar tidak ada lagi orang yang salah paham dengan konsep tersebut," tegasnya. (Husnul/Kendi Setiawan)