: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said Jelaskan Sejumlah Kezaliman Internasional terhadap Umat Islam

Kamis, 12 Juli 2018 11:48 Nasional

Bagikan

Kiai Said Jelaskan Sejumlah Kezaliman Internasional terhadap Umat Islam
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mendorong seluruh kader NU agar bisa menjadi penentu kebijakan nasional maupun internasional. Secara khusus, dia menyoroti sejumlah kebijakan internasional yang banyak merugikan umat Islam.

“Ini harus menjadi agenda penting dalam rangka 100 tahun NU yang tantangannya semakin tidak ringan,” ujar Kiai Said pekan lalu di Kalibata, Jakarta Selatan.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, dalam kebijakan internasional, sekarang ini umat Islam berada dalam kezaliman yang besar dan nyata.

Pertama, kedzalimnan politik. Saat ini lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB mempunyai hak veto, yaitu Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, Prancis. Rapat dan sidang raya seluruh anggota PBB mengutuk Israel, Amerika Serikat satu aja, tidak jadi itu keputusan.

“Kezaliman merajalela, terlalu besar kezaliman yang ada tersebut. Nah itu kebijakan politik dunia internasional,” tururnya.

Kedua, kezaliman di bidang kebijakan tarif dan trading. Indonesia negara penghasil timah, minyak, gas bumi, nikel, bauksit, batubara, dan lain-lain. Tapi bukan Indonesia yang menentukan harga. Yang menentukan harga ialah agen-agen kapitalis yang di antaranya ada di Singapura.

Kiai Said prihatin karena negara sekecil Singapura tetapi memegang kendali harga hasil bumi Indonesia. “Bukan bangsa Indonesia atau pemerintah Indonesia sendiri,” ucapnya.

Ketiga, kezaliman di bidang moneter. Sejak 1964 ada kesepakatan yang namanya kesepakatan Britain, bahwa uang yang diberikan oleh sebuah negara adalah dalam bentuk dolar, bukan emas. Jadi Indonesia ini kalau mencetak uang, misal 1 triliun rupiah harus punya simpanan dolar.

“Sehingga sistem moneter dolar ini menguasai segala sistem. Yang gampang contohnya, kita belanja bayarnya pakai kartu, jika kita gesek dolar mendapatkan poin, entah berapa persen. Jadi sampai hari kiamat dolar Amerika tidak akan kolaps,” terangnya.

Kiai Said mengharapkan mata uang rupiah Indonesia bisa demikian. Hal itu membutuhkan perjuangan semua elemen bangsa untuk melawan kezaliman tersebut.

Keempat, kezaliman pendidikan. Kiai Said menjelaskan, yang namanya ilmiah, yang namanya ilmu kalau referensinya dari Amerika, Eropa, Australia. Tapi yang dari Islam tidak dianggap ilmu. Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Jabir bin Hayyan, dan Ahmad bin Majid.

“Ilmuwan-ilmuwan Islam tidak pernah terdengar sebagai sebuah ilmu sehingga tidak dikembangkan melalui penelitian-penelitian serius di universitas-universitas kita,” ujar Kiai Said.

Kiai Said menerangkan, mungkin betul kalau mereka dikatakan khazanah. Tetapi perubahan zaman yang sekarang berkembang ke era digital dimulai dari hal sedernaha yang dikenal dengan Aljabar. Matematika Aljabar berkembang ke era digital. Penemu Matematika Aljabar ialah Jabir bin Hayyan Al-Hasbi (w. 161 H).

Alat navigasi yang saat ini cukup modern. Tetapi yang menggagas pertama kali ialah Ahmad bin Majid pertama kali bikin alat sederhana namanya kompas pandrom. Ceritanya dulu ada orang di tengah padang pasir dan di tengah laut mau sholat bingung arah kiblat.

Selain itu, yang pertama kali menggambar bumi atau membuat peta ialah Abdullah al-Idrisi. Walaupun masih banyak yang keliru. Begitu juga orang yang pertama kali mengambarkan ruang angkasa dengan segala keunikannya ialah Abdurrahman ibnu Hawqal.

“Begitu juga orang yang pertama kali meneliti penyakit cacar ialah Abu Bakar Ar-Razi. Juga yang pertama kali menggagas alat musik organ atau yang saat ini berkembang menjadi piano ialah peradaban di Baghdad yang menciptakan ialah Abu Nasr Al-Farabi,” urai Kiai Said.

Sebab itu, sambungnya, tantangan umat Islam ialah jangan sampai tidak memahami dan jangan sampai menilai bahwa umat Islam tidak mempunyai andil dalam perkembangan sains dan teknologi. Ini belum di bidang pertanian, seni, dan lain-lain.

“Perjalanan peradaban dunia, dari Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Baghdad, baru Eropa modern. Jangan dibuang peranan Baghdad-nya dalam perkembangan sains dan teknologi,” tandas Kiai Said. (Fathoni)