::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peran Santri Menghadapi Bonus Demografi

Sabtu, 14 Juli 2018 09:00 Opini

Bagikan

Peran Santri Menghadapi Bonus Demografi
Oleh: Muhammad Sholihul Aziz

Dua tahun lagi Indonesia akan memasuki gerbang awal yang akan menentukan arah dan masa depan bangsa. Tahun 2020-2030 merupakan tahun penting bagi negeri ini, karena pada tahun itu Indonesia mendapat hadiah besar berupa bonus demografi.

Bonus demografi atau demographic devident adalah peningkatan jumlah penduduk usia produktif (15-60 tahun) di suatu negara dibandingkan dengan usia manulanya (60 tahun lebih). Istilah ini sangat popular di kalangan para ahli ekonom yang memaknainya sebagai keuntungan ekonomis. Ekonom berpendapat meningkatnya jumlah tabungan dari penduduk produktif sehingga mampu memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Fenomena ini dapat menjadi peluang keberhasilan bagi Indonesia jika mampu memanfaatkannya, namun dapat juga menjadi bumerang kegagalan bagi bangsa ini jika ceroboh dalam mengawalnya. Hal ini dikarenakan peningkatan usia produktif berarti juga membutuhkan jumlah lapangan pekerjaan yang besar dan modalnya tentu juga tidak sedikit.

Bukan saja dalam ranah ekonomi, akan tetapi dalam segala aspek seperti pendidikan, sosial, kesehatan, politik dan lain sebagainya harus terus dikawal bersama supaya dapat berjalan dengan baik dan memetik hasil yang memuaskan untuk keberlangsungan masa depan negeri ini.

Berbicara tentang bonus demografi tentu tidak dapat menutup mata dari peranan santri yang notabene merupakan salah satu pelaku utama dalam fenomena ini. Santri adalah kalangan muda produktif yang sedang tirakat dalam menggali keilmuan, mereka dipersiapkan untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya guna menghadapi segala problematika dimasyarakat.

Data dari Pangkalan Data Pondok Pesantren (PDPP) Kemenag menyatakan bahwa jumlah santri saat ini adalah 3.962.700 santri yang tersebar pada 25.938 pondok pesantren seluruh Indonesia. Data tersebut menunjukkan santri dan pondok pesantren adalah basis masa terbanyak yang menyumbangkan sumber daya manusianya dalam bonus demografi ini.

Melihat realita tersebut, sudah sepatutnya pendidikan pesantren harus mendapat perhatian khusus karena pendidikan jenis ini adalah pendidikan yang bukan melulu mengandalkan pengetahuan formalistik (teori) saja, melainkan juga mengedepankan aspek spiritual, skill dan mental santri.

Menurut KH Suyuthi Murtadlo, pengasuh Pesantren Manba’ul Hikmah Kaliwungu, santri harus siap ketika ditempatkan dalam situasi apa pun. Santri opo wae iso, iso opo wae. Maksud dari maqalah beliau adalah santri dituntut untuk serba bisa dalam segala bidang, bukan hanya persoalan agama saja.

Dalam menghadapi fenomena bonus demografi, santri dihadapkan pada berbagai rintangan. Santri sejak dini harus ditempa agar siap secara lahir maupun batin. Santri tidak boleh lengah apalagi sampai tertinggal di era kompetisi yang begitu ketat ini. Santri harus mempunyai skill yang mumpuni disamping ilmu pengetahuan dan akhlak yang luhur.

Memang benar dalam menggali keilmuan harus didasari niat yang tulus, bukan mengejar keduniaan. Akan tetapi, ini dimaksudkan agar perjuangan santri untuk li i’lai kalimatillah tidak terhambat dikarenakan santri menutup mata dari keadaan modern saat ini. Agar skill dan pengetahuan umum menjadi alat untuk menunjang perjuangannya kelak.

Dakwah santri yang optimal di jaman milenial ini adalah melalui pemanfaatan terhadap teknologi dan informasi yang semakin berkembang pesat. Artinya santri tidak boleh gagap terhadap teknologi dan arus informasi yang ada. Dengan begitu santri akan benar-benar menjadi aset penting bangsa ini dalam mengawal laju modernitas.

Kreativitas santri akan diuji, siapa yang lebih kreatif dan produktif maka dialah yang akan memenangkan kompetisi ini. Santri dituntut untuk terus menciptakan karya dalam segi apa pun itu, demi meningkatkan kualitas negeri ini dalam pertarungan pasar internasional. Dengan begitu santri tidak akan dipandang sebelah mata lagi di mata masyarat umum.

Penulis adalah Pengurus PMII Rayon Syariah Komisariat Walisongo dan Pegiat di LPM Justisia.