::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Islam Nusantara Penjaga Tradisi Nusantara

Sabtu, 14 Juli 2018 14:00 Daerah

Bagikan

Islam Nusantara Penjaga Tradisi Nusantara
Ustadz Sayyidi Al-Manaf (jubah ireng tengah)
Bekasi, NU Online
Islam Nusantara adalah Islam yang menjaga tradisi nusantara. Rajaban, maulidan, tahlilan, ziarah kubur, dan lain sebagainya. Untuk apa? Membentengi dari paham Syi'ah dan Wahabi

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Bekasi Ustadz Sayyidi Al-Manaf saat ceramah dalam rangka Walimatul Ursy di Perumahan Perwirasari, Kelurahan Perwira, Bekasi Utara, pada Jum'at (13/7) malam.

"Di setiap wilayah, penafsiran tentang Islam akan berbeda. Tergantung tempat dan kondisi di daerah setempat. Analoginya seperti hujan. Di Brebes, turun hujan maka yang tumbuh adalah bawang," ujarnya.

Kalau di Malang, imbuhnya, bukan bawang, tetapi buah apel. Sementara di Palembang jika turun hujan, akan tumbuh buah duku. Begitu pula di daerah-daerah lain, tentu akan berbeda. Sedangkan yang menjadi inti dari pertumbuhan itu adalah hujan yang membawa keberkahan.

"Ziarah kubur dianggap menyembah kuburan dan dianggap sebagai syirik. Betul, kalau kita meminta-minta pada mayat yang ada di dalam tanah itu. Kalau mendoakan, itulah yang dianjurkan," kata Pimpinan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) Kota Bekasi ini.

Islam datang ke Indonesia, tambahnya, bukan untuk mengganti ajaran Islam. Akan tetapi agar mudah dipahami oleh masyarakat, sehingga Islam akan besar dan diterima dengan cara-cara yang baik.

Sebelum ceramah, sebagai pendakwah Islam Nusantara, terlebih dulu ia menyenandungkan salawat badar dengan diiringi musik hadrah dari Ikatan Remaja Masjid Jami' Al-Ikhlas (Irmajas), Perwirasari. Kemudian dilanjut pula dengan lantunan Lir-Ilir yang diciptakan Raden Mas Said atau Kanjeng Sunan Kalijaga.

Usai ceramah, ia membuka terapi gurah mata dan telinga. Hampir semua hadirin mencobanya. Untuk gurah mata, Da'i Jubah Ireng hanya meniup udara ke mata dan akan terasa perih selama kurang lebih 15 menit.

Alangkah lebih baiknya, agar mata membaik, terapi dilakukan secara rutin. Da'i Jubah Ireng membuka pengobatan, baik medis maupun nonmedis, di Padepokan PJI, Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi. (Aru Elgete/Muiz)