::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perjuangan Kiai di Tengah Pusaran Kolonialisme

Senin, 13 Agustus 2018 06:30 Opini

Bagikan

Perjuangan Kiai di Tengah Pusaran Kolonialisme
Ilustrasi: KH Hasyim Asy'ari ditemui serdadu Nippon
Oleh Fathoni Ahmad

Sebagian ulama kelahiran Indonesia menempa diri dalam pencarian ilmu di Timur Tengah. Meski belasan tahun tinggal di negeri orang, mereka tidak menutup mata terhadap problem bangsa di negaranya. Hal ini terlihat ketika salah satu kiai kelahiran Demak yang singgah di Jombang, KH Hasyim Asy’ari melakukan perlawanan, baik kultural maupun struktural terhada ketidakperikemanusiaan penjajah Belanda dan Jepang.

Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926 di Surabaya yang kini menjadi gerakan civil society perajut bangsa dan penguat negara meletakkan pondasi perjuangannya dalam prinsip hubbul wathani minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

Bagi ayah KH Wahid Hasyim ini, dalam kondisi terjajah, aktualisasi keimanan seseorang bisa diwujudkan melalui perjuangan membela bangsa dan negara agar rakyat terbebas dari kolonialisme. Dengan kata lain, membela tanah air merupakan kewajiban kaum beragama, tidak hanya Muslim sehingga Resolusi Jihad yang dicetuskan Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 mampu menggerakkan seluruh rakyat untuk membela tanah airnya.

Sebagai penegasan, simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Tubagus Muhammad Falak (1842-1972), KH Bisri Syansuri, KH Syamsul Arifin Situbondo, serta ulama-ulama lain di berbagai daerah yang menginisiasi kebangkitan ulama melalui perjuangan mendirikan pesantren di daerah yang terbilang ada dalam kondisi tatanan sosial yang sangat negatif. Begitulah mestinya pijakan awal perjuangan agama, mengubah dari kondisi negatif ke tatanan sosial yang lebih baik dalam bingkai religiusitas komunal, bukan individual.

Semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathan).

Nahdlatul Ulama (NU) dalam forum Muktamar tahun 1936 di Banjarmasin menegaskan pentingnya persatuan umat Islam untuk melawan berbagai propaganda Belanda. Rais Akbar NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memanfaatkan forum tertinggi di NU tersebut untuk menggaungkan tali kuat persatuan di kepada para peserta Muktamar dan umat Islam pada umumnya, baik dari golongan ulama maupun masyarakat umum.

Dalam amanatnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan terjalinnya persatuan umat Islam dan membunag jauh pertengkaran soal khilafiyah guna menghadapi siapa saja yang sengaja memusuhi Islam, terutama kaum penjajah. Kiai Hasyim (Choirul Anam, 2010) mengatakan:

"Wahai sekalian ulama yang berta’assub kepada sebagian madzhab atau qaul ulama, tinggalkanlah ta’assub kalian terhadap perkara-perkara furu’ (cabang)."

Kiai Hasyim berpandangan, sebesar apapun kepentingan suatu kelompok, jika hanya memunculkan perpecahan di antara umat Islam Indonesia harus segera diakhiri untuk prospek perjuangan yang lebih besar mengingat bangsa Indonesia masih terjajah oleh Belanda kala itu. Perhatian sangat besar dari Kiai Hasyim Asy’ari untuk keberlangsungan umat Islam Indonesia menjadi perhatian bersama dari para ulama ketika itu. Kiai Hasyim kembali menyerukan:

"Jangan kalian jadikan perdebatan itu menjadi sebab perpecahan, pertengkaran, dan bermusuh-musuhan. Ataukah kita teruskan perpecahan, saling menghina, dan menjatuhkan; saling mendengki kembali kepada kesesatan lama? Padahal agama kita satu: Islam, madzhab kita satu: Syafi’i, Daerah kita juga satu: Indonesia (ketika itu sebutannya Jawa). Dan kita semua juga serumpun Ahlussunnah wal Jamaah. Demi Allah, hal semacam itu merupakan musibah dan kerugian yang amat besar."

Sedangkan dalam masa penjajahan Jepang, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini. Sampai pada 3 Oktober 1944, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang juga ketika itu menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944. Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso.

Kemudian sebagai salah satu ulama pejuang, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1871), ulama asal Jombang, murid sekaligus teman seperjuangan KH Hasyim Asy’ari, motor pergerakan perjuangan pesantren dalam melawan penjajah, dan inisiator gerakan pemuda bernama Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air) melalui Perguruan Nahdlatul Wathan yang didirikannya pada 1916.

Konsep cinta tanah air melalui pendidikan ini menyadarkan para generasi muda agar bersatu melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa Indonesia. KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air.

Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab sendiri. Kini lagu tersebut sangat populer di kalangan pesantren dan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), yakni Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Syubbanul Wathan. Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar (gerakan pencerahan) yang berdiri tahun 1919 dan Nahdlatut Tujjar (gerakan kemandirian ekonomi). Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische studie club, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar ini, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air secara luas di tengah masyarakat dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan yang ada saat ini sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut. Wallahu’alam bisshowab.


Penulis adalah warga NU kelahiran Brebes, Jawa Tengah