::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HUT KE-73 RI

Pahlawan Bukan Hanya Orang yang Berperang

Senin, 20 Agustus 2018 01:00 Daerah

Bagikan

Pahlawan Bukan Hanya Orang yang Berperang
KHM Sulthon Abdul Hadi
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Hikmah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur KH Muhammad Sulthon Abdul Hadi menjelaskan, hakikatnya pahlawan kemerdekaan itu bukan saja orang yang berjuang di medan perang saja, tetapi orang yang juga membantu pejuang merebut kemerdekaan layak disebut pahlawan.

Orang yang membantu pahlawan kemerdekaan itu terbagi dalam beberapa jenis. Ada yang membantu merawat luka para pejuang, ada juga yang membantu lewat sokongan dana dan ada juga yang membantu membawa peralatan dan menyediakan senjata. Selain itu, orang yang menyediakan makan dan minum untuk para pejuang juga punya jasa buat negara.

"Sebenarnya pengertian pahlawan tidak hanya orang yang berjuang melalui perang saja. Orang yang membantu orang untuk berjuang atau berperang juga layak disebut seorang pahlawan," katanya di Jombang, Sabtu (18/8).

Kiai Sulton menyebutkan, pahlawan punya kesabaran tingkat tinggi sehingga bisa berhasil merebut kemerdekaan. Tanpa sikap sabar tentu kemerdekaan hanya angan belaka. Dengan sabar, para pahlawan terus istiqomah dalam berjuang siang-malam, keluar masuk hutan dan meninggalkan keluarga.

"Bahwa salah satu ciri dari sifat sabar ialah orang yang selama mendapat ujian dia tak pernah memberikan atau menceritakan cobaan tersebut kepada manusia lainnya. Ini mudah diucapkan tapi susah dilakukan," tambahnya.

Tak berhenti pada sabar, karakter pahlawan juga mampu bersyukur dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan memperbanyak doa setelah proklamasi dan setiap tanggal 17 Agustus. Syukur juga diwujudkan dengan mengisi kemerdekaan dengan serius merawat negara Indonesia.

"Dilanjutkan dengan syukur, syukur itu ada yang billisan (hanya ucapan saja) dan syukur haqiqi. Syukur kedua ini yaitu dengan menunjukkan dengan perbanyak ibadah, doa, perbuatan baik dan bersedekah," pungkas Kiai Sulton. (Syarif Abdurrahman/Muiz)