::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Biarkan Islam Nusantara Terbuka

Sabtu, 01 September 2018 21:00 Nasional

Bagikan

Biarkan Islam Nusantara Terbuka
Tangerang Selatan, NU Online
Sampai saat ini, Islam Nusantara seolah tidak berhenti menjadi bahan kajian. Ia terus dipelajari dari berbagai perspektifnya, meskipun tidak ada pula yang terus berkampanye menolaknya.

Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengungkapkan bahwa istilah tersebut memang sengaja dibiarkan menggelinding tanpa definisi ketika pertama kali dicetuskan sebagai tema pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, tahun 2015.

"Islam Nusantara ini jangan mendefinisikan dulu, biarkan ini terbuka," kata Gus Ulil mengutip pernyataan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat mengisi kajian rutin di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (1/9).

Gus Yahya, sapaan akrab Katib Aam juga, ceritanya, mencegah KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membuat definisi itu ketika dimintai pendapatnya.

"Karena Islam Nusantara (jika) didefinisikan, buru-buru, tidak ada proses secara perdebatan, diskusi," katanya.

Hal tersebut, menurutnya, akan dijadikan alat klaim. Itu juga dapat dijadikan alat untuk menegasikan orang lain.

Dalam istilah usul fiqh, batasan disebut had. Hal ini, katanya, harus jami' dan mani', yakni menyeluruh dan mencegah. Mengingat semangat bangsa Indonesia ini adalah inklusifitas, maka Gus Yahya, katanya, seakan enggan mengeksklusi sekelompok orang.
Benar saja, gagasan ini membuat Islam Nusantara menjadi diskusi yang kreatif. Hal ini melahirkan cukup banyak karya.

"Sampai saat ini sudah lahir banyak sekali (karya)," pungkasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)