::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Rasulullah Menghibur Sahabat saat Hijrah ke Madinah

Selasa, 11 September 2018 09:00 Hikmah

Bagikan

Kisah Rasulullah Menghibur Sahabat saat Hijrah ke Madinah
Rasulullah mengalami tahun-tahun yang sulit usai ditinggal wafat sang paman Abu Thalib (619) dan istri Khadijah (620 M). Dua orang yang sebelumnya menjadi pelindung Rasulullah dalam mendakwahkan ajaran Islam. Wafatnya dua Khadijah dan Abu Thalib membuat kafir Quraish semakin terang-terangan memusuhi Rasulullah. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Mulai dari boikot Muhammad dan pengikutnya hingga upaya pembunuhan.

Hingga kemudian pada 622 M Rasulullah dan para pengikutnya diperintahkan untuk berhijrah (bermigrasi) ke Yatsrib –kota ini kemudian diubah namanya oleh Rasulullah menjadi Madinah. Sebuah kota yang terletak 450 kilometer ke arah utara Makkah. Mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi dan berpencar agar tidak diketahui kafir Quraish. 

Proses hijrah dari Makkah ke Madinah tidak lah ringan. Bahkan, Rasulullah dan Abu Bakar as-Siddiq bahkan harus bersembunyi di Gua Tsur selama kurang lebih tiga hari untuk menghindari kejaran kafir Quraisy. 

Tidak sampai di situ, ketika Rasulullah dan para pengikutnya tiba di Madinah mereka juga menghadapi persoalan-persoalan yang tidak kalah beratnya. Banyak sahabat yang terkena penyakit seperti Abu Bakar dan Bilal yang demam berat. Tidak sedikit pula sahabat Rasulullah yang mulai kangen dengan Makkah sebagai kampung halamannya. Mereka juga harus meninggalkan sanak saudara dan sahabatnya di Makkah. Pun harta benda yang selama ini mereka kumpulkan.

Untuk meringankan beban dan menghibur para sahabatnya, ada beberapa langkah yang dilakukan Rasulullah sebagaimana dikutip dari buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad saw. Pertama, berdoa untuk kesembuhan sahabatnya. Ketika mendengar Abu Bakar dan Bilal sakit berat, Rasulullah langsung berdoa kepada Allah agar segera mengangkat penyakitnya. Tidak lama setelah itu, kedua sahabat Rasulullah itu langsung sembuh dari penyakitnya.

Kedua, memberikan keyakinan kepada para sahabat. Rasulullah meminta kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Para sahabat juga diminta untuk terus memperjuangkan dakwah Islam di Madinah. 

“Aku akan menjadi jaminan dan saksi bagi siapapun yang bersabar di Madinah dan Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada mereka,” kata Rasulullah.

Ketiga, memberikan makanan kepada para sahabat. Rasulullah seringkali membagikan buahan-buahan kepada para sahabat. Tidak lain, tujuannya adalah sebagai bentuk perhatian dan dorongan moril yang diberikan Rasulullah kepada para sahabatnya yang telah meninggalkan saudara dan sahabatnya di Makkah.

Keempat, mempersaudarakan dengan penduduk Madinah. Rasulullah sadar betul bahwa para sahabat yang ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah (kaum Muhajirin) tidak memiliki apapun. Baik kerabat atau pun harta benda. Oleh sebab itu, Rasulullah menghibur mereka dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin tersebut dengan penduduk Madinah (kaum Anshar). Hingga kemudian kaum Muhajirin dan Anshar merasakan betapa manisnya persaudaraan mereka. Sebuah persaudaraan yang dilandasi dengan iman. 

Selain itu, Rasulullah berdoa agar Allah menganugerahkan kebaikan, memberkahi rizki, dan menjauhkan segala macam penyakit bagi penduduk Madinah –baik Anshar maupun Muhajirin- dianugerahi kebaikan. Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah juga memohon kepada Allah agar Allah memberikan cinta kepada dirinya dan sahabatnya pada kota Madinah sebagaimana cinta kepada Makkah, dan bahkan lebih. (A Muchlishon Rochmat)