::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda

Kamis, 13 September 2018 09:00 Tokoh

Bagikan

KH Masruri Mughni dan Budaya Menghafal Al-Qur’an Masyarakat Benda
KH Masruri Abdul Mughni
Setiap tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah, masyarakat Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mengadakan Haul Akbar al-Maghfūr lah KH Masruri Abdul Mughni (1943-2011 M) atau yang akrab disapa Abah Masruri. Namun, sebagian masyarakat belum banyak yang tahu tentang keunikan desa tersebut sebagai kampung yang aktif “memproduksi” Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah di setiap generasinya.

Pada umumnya, Desa Benda dikenal oleh khalayak masyarakat sebagai kampung santri karena keberadaan Pesantren Al-Hikmah, terutama ketika di bawah kepemimpinan kharismatik Abah Masrur, sebagai tokoh generasi kedua.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun satu fakta yang tidak boleh luput dari tinta sejarah adalah penisbatan Desa Benda sebagai Dār al-Qur’ān atau desa hunian Qur’āni. Penisbatan demikian tidaklah berlebihan dan sangat beralasan mengingat di samping desa ini memiliki tidak kurang 7 pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, desa ini juga telah bershasil menciptakan budaya menghafal al-Qur’an bagi masyarakat setempat dan di sekitarnya.

Tujuh pesantren di Desa Benda yang dirintis khusus pembelajaran Taḥfiẓ al-Qur’ān adalah Pesantren Al-Hikmah, Pesantren Al-Amīn, Pesantren Al-ʻIzzah, Pesantren Manārul Qur’ān, Pesantren Al-Istiqāmah, Pesantren Nūr al-Qur’ān, dan muncul belakangan adalah Pesantren Al-Hikmah 1.

Oleh karenanya tidak sedikit para ulama dan tokoh nasional yang sempat berkunjung ke Desa Benda selalu menyebutnya sebagai Dār al-Qur’ān atau Desa Al-Qur’ān  yang layak masuk rekor MURI. Fakta demikian semakin diperkuat dengan data statistik tahun 2013 yang mencatat bahwa jumlah Ḥāfiẓ/Ḥāfiẓah penduduk desa Benda (non-santri) sebanyak 165 orang (JQH Brebes, 2013). Jumlah ini menurun drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan wawancara peneliti dengan ʻIzzuddīn Masruri, Putra Abah Masrur sekaligus Pengasuh Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān Al-Hikmah, diperoleh sebuah informasi bahwa pendidikan Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda tidak sekonyong-konyong ada, tetapi melalui sebuah proses panjang pengenalan al-Qur’ān  kepada masyarakat yang dimulai dari era Kiai Nasir sampai Kiai Suhaimi.

Kiai Nasir adalah orang yang pertama kali memperkenalkan bacaan al-Qur’ān  kepada masyarakat Benda meski dari segi kualitas bacaan tidak sempurna seperti pengucapan yā ḥayyu menjadi yā kayyu,walāḍḍāllīn menjadi walā lalin dan sebagainya, sampai dengan datangnya Kiai Khalīl bin Maḥallī. Maka perlu dicatat bahwa orang yang pertama kali mereformasi bacaan al-Qur’ān secara tepat dan benar berdasarkan kaidah tajwid adalah Kiai Khalīl sampai dengan lahirnya budaya menghafal al-Qur’ān  di era Kiai Suhaimi 11 tahun kemudian (1922 M).

Abah Masrur adalah cucu pendiri Pondok Pesantren Al-Hikmah (1911 M), KH. Cholil bin Mahali. Ulama yang menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah hampir dua periode ini dikenal khalayak sebagai kiai kharismatik yang ʻālim hampir di semua bidang ilmu keagamaan sebagaimana menu harian yang dibaca untuk santrinya mulai dari Fatḥ al-Wahāb, Tafsir Jalālain, Sharaḥ Ibn ʻAqīl sampai Ihyā ‘Ulūm al-Dīn.

Khusus bagi santri yang belajar di Madrasah Mu’allimīn dan Muʻallimāt akan mendapat servis plus darinya dengan materi ilmu tafsir, ilmu ‘arūḍ dan ilmu falak. Waktunya hampir habis untuk mengajar para santri yang dimulai dari baʻda subuh hingga tengah malam dan itu dilakukan dengan istiqāmah hingga menjelang wafatnya.

Tidak berlebihan jika sebagian masyarakat menisbatkan tarekatnya sebagai tarekat taʻlīmiyah. Atau bahkan ada yang menisbatkannya dengan tarekat mbanguniyah karena di eranya lah, Al Hikmah mengalami perkembangan pesat dalam ranah pendidikan yang dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang tak bertepi.

Dalam konteks budaya menghafal, kiprah dan kontribusi Abah tidak dapat diabaikan. Meski tidak secara langsung membawahi Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān, sebagai generasi kedua, peran Abah sangat krusial dan substansial. Abah tidak pernah merasa sungkan untuk selalu memberi motivasi kepada khalayak masyarakat khususnya santri untuk menjadi Ahl al-Qur’ān dengan menghafalkannya.

Bahkan di setiap pengajian-pengajian majlis taʻlim, Abah tidak jarang memberikan tawaran beasiswa kepada siapa saja yang mau menghafal al-Qur’ān dan di manapun pesantren yang diinginkan. Sebuah terobosan yang juga dilakukan pendahulunya, Kiai Suhaimi yang tidak sungkan untuk menjemput bola dan mengajak orang untuk menghafal al-Qur’ān.

Semangat Abah bukan tanpa alasan tetapi terinspirasi oleh ajaran fiqh yang menghukumi Farḍu Kifāyah di dalam menghafal al Qur'ān, yakni harus ada sebagian umat Islam yang hafal Al Qur’ān. Ia melihat selama ini belum ada lembaga yang menyatakan sanggup menjaga ketentuan fardlu kifayah yang satu ini. Untuk itu, melalui pondok pesantrennya, ia ingin sebisa mungkin menjaga ketentuan ini.

“Jangan sampai pada suatu masa nanti, tidak ada lagi satu pun umat Islam yang hafal kitab suci yang terbagi dalam 6 ribu lebih ayat, 114 surat dan 30 juz itu”(Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.). Bahkan dengan para penghafal al-Qur’ān, Abah tidak segan mengungkapkan jargon “Afḍal al-Ṭarīqah Ṭarīqah Al-Qur’ān”.

Motivasi Abah ini memiliki pengaruh luar biasa di dalam menjaga budaya menghafal al-Qur’an bahkan berhasil melakukan terobosan ke arah pengembangan. Bertambahnya jumlah Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān di Desa Benda disertai massifnya generasi penerus penghafal al-Qur’an, merupakan fakta yang menggembirakan.

Untuk menyebut dari sekian generasi penerus dan beberapa pesantren yang lahir kemudian seperti Ustāẓ ʻAbdul Hādi (menantu dan penerus Kiai Fatih), KH. Abdul Rauf, KH. Abdur Rasyid dan KH. Mustofa (ketiganya merupakan anak dan penerus KH. Aminuddin), KH. Izzuddin dan Nyai Hj. Minhah (keduanya adalah penerus KH. Alī Ashʻāri).

Sedangkan beberapa Pesantren Taḥfiẓ al-Qur’ān yang lahir kemudian adalah Pesantren Al-Istiqāmah di bawah asuhan KH. Abdul Jamil, Pesantren Nūr al- Qur’ān di bawah Asuhan Kiai Nashroh, Pesantren Al-Izzah di bawah asuhan Ny. Hj. Minhah (isteri KH. Alī ʻAshʻārī) beserta puteranya Ustaẓ Faiq Muʻin dan terkahir pesantren Al-Hikmah I yang diasuh Ustaẓ Ḍiyāulhaq (cucu Kiai Suhaimi dari garis KH. Shodik Suhaimi).

Dengan meningkatnya jumlah generasi penerus dan berkembangnya jumlah pesantren Tahfidz al-Qur’ān, merupakan lompatan besar sebagai keberhasilan kaderisasi yang dilakukan generasi sebelumnya. Dan semuanya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Abah sebagai tokoh sentral masyarakat Desa Benda.

Namun demikian, bertambahnya jumlah pesantren dan jumlah generasi tidak berbanding lurus dengan semangat budaya menghafal al-Qu’ān masyarakat Desa Benda. Hal ini dapat dilihat dari keengganan masyarakat untuk menghafal al-Qur-ān akhir-akhir ini karena sudah dianggap tidak prospektif atau meminjam istilah Kiai Ahsin Sakho sebagai kelompok “masa depan suram”.

Di sinilah makna kerinduan motivasi, laiknya motivasi dari seorang Abah dibutuhkan. Motivasi sebagai suntikan ampuh untuk masyarakat dan khususnya masyarakat Desa Benda agar semakin mencintai al-Qur’ān dan menghafalnya kembali. Setidaknya untuk membuktikan kepada khalayak umum bahwa seorang ḥāfiẓ/ḥāfiẓah tidak lagi identik dengan kelompok masa depan suram tetapi kelompok yang menjaga kalimat Allah dan tentunya membawa pencerahan.
Agus Irfan, alumni Al-Hikmah, Pengurus Ansor Jawa Tengah dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Sultan AgungUNISSULA Semarang.

Referensi :
1. Agus Irfan, Kontekstualisasi Pendidikan Tahfidz al-Qur’ān, Penelitian DIPA Kopertais, Kemenag, 2013.
2. Profil Pondok Pesantren Al-Hikmah, t.t.
3. Laporan Jam’iyat al-Qurrā wa al-Ḥuffāḍ (JQH), Kabupaten Brebes, 2013.
4. Wawancara dengan Izzudin Masruri, 2013 dan 2018