::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Ini Penjelasan PWNU DKI Jakarta Soal Isu Antikalimat Tauhid

Sabtu, 15 September 2018 08:15 Nasional

Bagikan

Ini Penjelasan PWNU DKI Jakarta Soal Isu Antikalimat Tauhid
Jakarta, NU Online
Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas menyayangkan tuduhan sekelompok orang terhadap GP Ansor dan NU secara umum perihal antikalimat tauhid. Menurutnya, tuduhan yang dialamatkan kepada GP Ansor dan NU secara umum itu tidak berdasar.

Ia menjelaskan bahwa warga NU dan aktivis GP Ansor-Banser sangat menghormati kalimat tauhid karena kalimat tauhid merupakan kalimat suci yang dengannya seseorang mendapatkan status mulia, keimanan.

Ia menambahkan bahwa warga NU dan aktivis GP Ansor-Banser juga mencintai kalimat tauhid. Bahkan, pendukung ahlussunnah wal jamaah ini juga mencintai pelafalan kalimat tauhid yang kemudian dikemas dalam bentuk upacara tahlilan.

Mereka, kata Kiai Taufik, meyakini sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa lafal zikir yang paling utama adalah kalimat tauhid, yaitu lafal tahlil.

“Dari dulu orang Islam di sini tahu bahwa kalimat tauhid adanya di dalam hati dan pikiran. Pada momen tertentu, kalimat tauhid wajib diucapkan seperti dalam shalat. Bisa juga dijadikan sebagai wirid atau dibaca dalam tahlilan,” kata Kiai Taufik kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (15) pagi.

Sementara kalimat tauhid yang tertulis di bendera, spanduk, selebaran, dan lain-lain itu sudah lain cerita karena sudah jadi alat politik. Kalimat tauhid yang tertulis di pelbagai wadah itu digunakan untuk kepentingan politik sekelompok orang.

“Politik itu profan (tidak sakral): bisa diterima dan bisa ditolak. Jadi biasa-biasa saja,” kata Kiai Taufik.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memasukkan kata “profan” dengan makna “tidak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan; lawan sakral; tidak kudus (suci) karena tercemar, kotor, dan lain sebagainya; tidak suci; tidak termasuk yang kudus (suci); dan bersifat duniawi.

“Jika Anda menuduh orang lain antikalimat tauhid, berarti otak Anda sedang keracunan hingga tak mampu membedakan antara politik dan agama,” kata Kiai Taufik.

Ia mengatakan bahwa kalimat tauhid itu sakral karena bagian paling penting dalam Islam. Kalimat tauhid merupakan fondasi utama dalam beragama.

“Ketika Anda menjadikannya sebagai alat politik, jangan-jangan justru Anda yang sedang merendahkannya,” kata Kiai Taufik. (Alhafiz K)