::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Doa Kiai Akyas Buntet pada Peristiwa G30S/PKI 1965

Ahad, 30 September 2018 06:00 Fragmen

Bagikan

Doa Kiai Akyas Buntet pada Peristiwa G30S/PKI 1965
Kiai Akyas Buntet (Dok. istimewa)
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 selalu menjadi perbincangan setiap tahun. Di bulan kesembilan ini juga, tuduhan tak berdasar sering kali menyasar. Tentu, PKI yang sudah resmi dilarang itu adalah yang dituduhkan satu pihak ke pihak lawannya. Siapa lagi kalau bukan aktor-aktor politik.

Penuduh sibuk mencari alasan agar serangan yang ia lancarkan itu bisa dibenarkan publik, sementara pihak tertuduh sibuk membela diri, merasa bukan bagian dari yang dituduhkan. Yang jadi korban justru adalah rakyat. Mereka harus mendengar adu mulut yang tidak membangun kesejahteraannya.

Terlepas dari tuduh menuduh itu, penulis teringat beberapa tahun silam saat mengaji kepada KH Tubagus Ahmad Rifqi Chowas, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Buntet Pesantren, Cirebon.

Pada pengajian bulan Ramadhan itu, Kiai Entus, sapaan akrabnya, bercerita tentang sosok kiai Buntet yang begitu kharismatik, yakni KH Akyas Abdul Jamil saat peristiwa 53 tahun lalu.

Kiai Akyas keluar dari kediamannya saat tengah malam tiba. Malam itu adalah malam yang begitu mencekam di beberapa daerah di Indonesia. Adik Kiai Abbas itu menengadahkan tangannya ke langit. Tak ada yang menghalangi antara telapak tangannya dan langit.

Saat itu, ia membaca doa, seperti yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh as. sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an surat Nuh ayat 26. 

 وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا 

"Dan Nuh berkata: Ya Tuhanku, jangalah Engkau biarkan di antara orang kafir itu tinggal di atas bumi"

Namun, Muqaddam Tarekat Tijaniyah itu mengganti kata al-kafirina dalam ayat tersebut dengan al-pekaiyina. 

رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْفِيْكَائِيِّيْنَ دَيَّارًا

"Ya Tuhanku, jangalah Engkau biarkan di antara orang PKI itu tinggal di atas bumi"

Mungkin, seperti Nabi Nuh, Kiai Akyas khawatir PKI ini akan membawa kesesatan dan kedurhakaan. Ayat 27 surat Nuh menyebut demikian.

 إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

"Sungguh jika Engkau membiarkan mereka (orang-orang Kafir pada zaman Nabi Nuh) tinggal di atas bumi, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan mereka hanya akan melahirkan anak yang jahat lagi tak tahu bersyukur."

Dan, hari ini, masyarakat Indonesia melihat terkabulnya doa Kiai Akyas. PKI sudah tak lagi ada di bumi pertiwi ini. (Syakir NF)