::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Saat KH Zainul Arifin Mendampingi Soekarno ke Negeri Paman Sam

Selasa, 02 Oktober 2018 07:00 Fragmen

Bagikan

Saat KH Zainul Arifin Mendampingi Soekarno ke Negeri Paman Sam
Sebagai politisi yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno, KH Zainul Arifin dari partai NU sering mendampingi kepala negara RI pertama itu mengadakan lawatan ke mancanegara. 

Bermula dari suksesnya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955 yang terselenggara pada masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamijoyo I atau Kabinet Ali-Arifin (setelah wakil perdana menteri Wongsonegoro mengundurkan diri), Soekarno segera menindaklanjuti hasil-hasil konferensi dengan melakukan lawatan kenegaraan persahabatan keliling dunia selama beberapa bulan pada 1956. Salah satu negara tujuan ialah Amerika Serikat yang kala itu dipimpin Presiden Dwight Eisenhower.

Sambutan Hangat

Kunjungan perdana ke negeri adi daya itu berlangsung hingga 19 hari lamanya. Dari 16 Mei hingga 3 Juni 1956. Pemerintah AS memberikan sambutan hangat terhadap Presiden Soekarno.

Di bandara, sesuai aturan protokoler Gedung Putih, Soekarno dan rombongan disambut oleh wapres Richard Nixon lengkap dengan upacara kebesaran militer. Dari Bandara Presiden RI dibawa dengan mobil terbuka di Gedung Putih dimana Presiden Eisenhower sudah menunggu di atas tangga pintu masuk Gedung.

Melanggar aturan protokoler, Eisenhower bukannya menunggu di depan pintu masuk di tangga atas, tetapi ia malah turun tangga mendatangi Sukarno hingga ke pintu mobil dan membimbingnya naik ke atas menuju pintu masuk. Hanya Presiden Soekarno kepala negara yang mendapat perlakuan begitu rupa. 

Lawatan ke negeri adi daya yang ketika itu masih dirundung situasi Perang Dingin dengan Uni Soviet itu juga berlangsung cukup lama melintasi beberapa negara bagian AS membuat Soekarno terkesan.

Sambutan Dingin

Empat tahun sesudahnya, hubungan AS-Indonesia mendingin karena Soekarno dipandang terlalu dekat dengan kubu Uni Soviet. Padahal Soekarno berkukuh dengan pendirian Non-Blok nya. Dalam situasi demikianlah PBB mengundang Presiden sebagai salah satu pembicara dalam Sidang Umum ke 15 di New York.

Sukarno bertolak menuju AS setelah mendapat restu dari DPRGR yang diketuai KH Zainul Arifin pada 22 September 1960. Arifin kemudian bahkan ikut serta dalam rombongan dengan rute perjalanan meliputi Jakarta-Tokyo-New York-Paris-Roma-Jakarta.

Tiba di AS, sambutan Eisenhower tidak sehangat sebelumnya. Jangankan menyambut Soekarno ke pintu mobil, sampai di Gedung Putih Sukarno malah disuruh menunggu sampai 10 menit lamanya tanpa kemunculan Presiden Eisenhower. Soekarno, sebagaimana diceritakan Cindy Adams dalam autobiografi Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat pun sempat marah dan menegur keras pihak protokoler Gedung Putih.

Dikatakannya Presiden Indonesia akan meninggalkan Gedung Putih bila Eisenhower tidak segera hadir. Protokoler segera bertindak cepat menghadirkan Presiden AS seraya memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami Soekarno.

Pancasila dan Kitab Suci

Bagaimanapun, lawatan ke AS untuk berpidato di depan sidang umum PBB itu tetap dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai keberhasilan diplomasi tingkat tinggi Indonesia.

Pada hari bersejarah 30 September 1960, Sukarno menyampaikan pidatonya sekira sejam lamanya yang terkenal, "To Build The World Anew" dimana Presiden menjelaskan falsafah bangsa dan negara Indonesia Pancasila sambil mengutip pula ayat suci Al Qur'an Surat Al-Hujurat 49:13. (Ario Helmy)