::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

BNPT: Kalau Indonesia Konflik, Kelompok Teroris Akan Masuk

Rabu, 03 Oktober 2018 21:30 Nasional

Bagikan

BNPT: Kalau Indonesia Konflik, Kelompok Teroris Akan Masuk
Ilustrasi: Quipper
Jakarta, NU Online
Direktur Pencegahan Terorisme Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Hamli mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga perdamaian dan tidak berkonflik. Menurutnya, jika Indonesia berkonflik maka kelompok ketiga atau kelompok teroris akan masuk dan ikut ‘meramaikan’ sehingga konflik menjadi lama dan susah diatasi.  

“Jangan sampai ada konflik di Indonesia. Kalau konflik mereka (kelompok teroris) masuk ke Indonesia,” kata Hamli di Kuningan Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Hamli kemudian memaparkan beberapa kejadian konflik yang kemudian ditunggangi para kelompok teroris. Konflik di negara-negara Timur Tengah misalnya. Awalnya konflik antara pemerintah dan pihak oposisi, namun karena ada kesempatan akhirnya para kelompok seperti ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), Al-Qaeda, dan lainnya masuk. Para kelompok teroris membuat konflik menjadi sulit diselesaikan.

Ia juga meminta agar umat Islam di Indonesia tidak resisten atau melawan para penegak hukum yang menjalankan tugasnya. Misalnya ketika para penegak hukum menangkap para pelaku radikalisme dan terorisme. Jangan yang umat Islam menuduh para aparat anti-Islam karena yang ditangkap kebetulan seorang Muslim. 

Termasuk saat ada kejadian pemboman. Ada saja sekelompok umat Islam yang menuduh aparat melakukan rekayasan bom dan menangkap seseorang yang dituduh teroris.

“Kita umat Islam jangan resisten. Kalau ada bom, ini konspirasi dan rekayasa. Di sekelompok umat Islam, ada anggapan seperti itu,” katanya.

Hamli mengaku cukup lega karena sebagian besar masyarakat Indonesia berpandangan bahwa terorisme adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa dibenarkan. Meski ada saja sekelompok masyarakat yang menganggap aksi terorisme adalah bagian dari jihad. (Muchlishon)