::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin

Senin, 08 Oktober 2018 00:30 Tokoh

Bagikan

Belajar Tawadhu' dari Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
KH Masbuhin Faqih, Sumber: Istimewa
Di era media sosial seperti saat ini, pembahasan konflik dan intrik politik cenderung lebih menarik mengalahkan tema budi pekerti, akhlaqul karimah atau tema sejenis lainnya. Akibatnya sifat baik seperti tawadhu’ menjadi barang langka yang asing dan seolah tak penting.

Namun bukan berarti sifat ini telah sepenuhnya hilang. Ia masih ada dan terus tumbuh di lembaga pendidikan bernama pondok pesantren. Para kiai di kalangan NU juga masih memegang teguh prinsip sifat ini. Kiai Masbuhin Faqih (71), pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin salah satunya. Beliau adalah salah seorang kiai yang meletakkan tawadhu' di tempat yang amat tinggi. Walaupun merupakan kiai besar dengan jumlah santri dan alumni hingga puluhan ribu, namun beliau tak jumawa. Rasa hormat dan takdim pada guru-gurunya tetap dijunjungnya tinggi-tinggi.

Sifat tawadlu'nya tampak saat disowani oleh Kiai Muda Dr Afifuddin Dimyati (39), pengasuh pondok pesantren Hidayatul Quran, Rejoso, Peterongan, Jombang pada Ahad (7/10) pagi. Saat keduanya bersalaman, Kiai Masbuhin yang 32 tahun lebih tua berusaha mencium tangan sang tamu, namun tak berhasil.

Kiai Masbuhin lantas mengatakan “Kulo (saya) yang seharusnya mencium tangan panjenengan," sambil mendekat berusaha meraih tangan sang tamu, namun ditolak secara halus. 


(Kiai Masbuhin Faqih saat berusaha meraih tangan Gus Afif untuk dicium
 
Gus Afif memang bukan guru yang pernah memberi pelajaran pada Kiai Masbuhin. Namun nasab Gus Afif sampai pada guru-guru Kiai Masbuchin. Dari jalur ayah, Gus Afif adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli Attamimi. Kiai Romli Attamimi sendiri merupakan guru dari Kiai Usman Al-Ishaqi, yang tak lain adalah guru Kiai Masbuhin. Sementara di sisi ibu, Gus Afif merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang juga merupakan guru Kiai Masbuhin Faqih. Silsilah itulah yang membuat Kiai Masbuhin begitu menghormati Gus Afif seperti menghormati gurunya sendiri. 

Sebenarnya cerita tingginya sifat tawadhu' Kiai Masbuhin pada gurunya telah banyak berkembang. Alkisah, pernah pada suatu hari, seorang santri laki-laki dari Kiai Masbuhin meminta sang kiai untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri. 

Pada waktu yang ditetapkan, berangkatlah sang kiai menuju rumah sang gadis yang akan dilamarkan. Akan tetapi sesampainya di lokasi, Kiai Masbuhin batal melamarkan santrinya, setelah mengetahui bahwa sang gadis merupakan alumni pondok pesantren Langitan, Jawa Timur, tempat beliau menimba ilmu selama belasan tahun. Konon, Kiai Masbuhin ‘tak berani’ melamarkan karena takut su’ul azab pada gurunya. 

Profil Kiai Masbuhin Faqih dan Sejarah Mamba'us Sholihin

Kiai yang oleh masyarakat Gresik dikenal dengan nama Yai Buhin dilahirkan di desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, pada 31 Desember 1947 atau 18 Shafar 1367 H dari pasangan KH Abdullah Faqih dan Nyai Hj Tswaibah. Jika dirunut lebih jauh, silsilah Kiai Masbuhin akan sampai ke Sunan Giri.

Sanad keilmuan Kiai Masbuhin secara formal berasal dari dua pondok pesantren, yakni Gontor dan Langitan. Di Gontor, beliau menimba ilmu sejak di bangku Masdrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah sambil memperdalam bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, di bawah pimpinan KH Abdul Hadi dan KH Abdullah Faqih. Di sana Masbuhin muda memperdalam ilmu Nahwu, Shorof, Fiqh, Tauhid, Tasawwuf dll, selama lebih dari 17 tahun. 

Kelak sistem kedua pesantren ini diduplikasi dan diterapkan di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin; yakni mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti  Langitan dan mewajibkan santrinya berbahasa Arab dan Inggris seperti Gontor. Dari sana pula Mambaus Sholihin dikenal dengan istilah pondok ‘salafi-modern’.

Di tahun 2018 ini, Mambaus Sholihin yang didirikan oleh sang ayah KH Abdullah Faqih dari sebuah surau kecil telah menginjak usia 49 tahun. Pada awalnya, pondok ini bernama “At-Thohiriyah” menyesuaikan dengan nama desa; Suci. Namun nama itu kemudian diganti menjadi “Mambaus Sholihin”, sesuai dengan pemberian guru Mursyid Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah, KH Usman Al-Ishaqi.

Seiring perjalanan waktu, pondok pesantren Mambaus Sholihin saat ini telah menjelma menjadi sebuah institusi pesantren yang terbesar di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Mamba'us Sholihin menyediakan pembelajaran mulai dari level Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi bernama Istitut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA). Saat ini, Mambaus Sholihin juga telah berkembang dengan memiliki sembilan cabang pesantren hingga di luar Jawa.

Cara berdakwah pondok pesantren Mamba'us Sholihin juga mengalami adaptasi. Di era digital seperti saat ini, metode dakwah di pondok pesantren Mamba'us Sholihin tidak hanya ditempuh melalui metode formal dan konvensional secara ofline, namun juga disiar-luaskan melalui sejumlah platform digital seperti channel YouTube dan Facebook. 

kendati demikian kebesaran nama itu tak membuat sang kiai jumawa. Beliau tetaplah seorang kiai yang meletakkan rasa hormat yang sangat tinggi pada guru-gurunya, termasuk keturunan dari guru-gurunya. Itulah alasan mengapa Kiai Masbuhin Faqih bersikeras hendak mencium tangan Gus Afif yang puluhan tahun lebih muda darinya; karena Gus Afif adalah cucu dari guru-gurunya. (Ahmad Rozali)