::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an

Senin, 08 Oktober 2018 16:00 Tafsir

Bagikan

Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Al-Qur'an
(Foto: hamzetwasl.net)
Dalam Al-Qur’an kita membaca Surat Ali Imran ayat 159. Pada ayat ini kita menemukan nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi keseharian Rasulullah SAW. 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

Artinya, “Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah-lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohonkan ampun lah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketetapan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal,” (Surat Ali Imran ayat 159).

Berdasarkan ayat di atas, seorang pemimpin harus memiliki karakter sebagai berikut:
1. Lemah-lembut.
2. Tidak kasar (tidak bengis), baik dalam ucapan atau perbuatan.
3. Siap memaafkan kesalahan orang lain. 
4. Selalu memohonkan ampunan untuk rakyatnya yang berbuat dosa.
5. Siap mendengarkan aspirasi rakyat (demokratis).
6. Memiliki komitmen yang kuat untuk melakasanakan tugas yang diembankan.
7. Selalu tawakal kepada Allah. 

Ayat ini juga menegaskan bahwa Al-Quran mengajarkan demokrasi (poin 5). Bahkan, dalam beberepa kitab tafsir dijelaskan bahwa perintah musyarawarah ini bukan karena Nabi Muhammad SAW membutuhkan pendapat orang lain, tetapi lebih karena untuk menjaga perasaan orang lain agar tetap merasa dihargai dan dihormati.

Dijelaskan bahwa kala itu, tokoh-tokoh Arab memiliki perasaan sangat senisitif. Jika tidak dimintakan pendapatnya, mereka gampang tersinggung. Maka, mengajak bermusyawarah adalah tindakan penting agar mereka merasa dihargai dan dihormati.

Perintah bermusyawarah ini juga mengandung pendidikan bahwa Nabi Muhammad SAW menginginkan agar orang-orang meniru sikap beliau dalam menyelesaikan segala urusan publik, yaitu harus melibatkan banyak orang dan mendengarkan aspirasi orang lain.

Dalam kasus tertentu, meski tidak membutuhkan pendapat orang lain, Nabi Muhammad SAW tetap mengajak mereka bermusyawarah. Aisyah RA bahkan pernah berkata, “Aku tidak pernah menemukan orang yang sering mendengarkan aspirasi orang lain (bermusyawarah) selain Rasulullah SAW,” (Lihat Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil).

Jika ada orang yang mengatakan bahwa demokrasi bukan ajaran Islam, maka yakinlah bahwa orang itu tidak pernah membaca Al-Quran dengan lengkap, apalagi membaca tafsir-tafsirnya. Saya kira ini bisa dipahami oleh siapa pun. Wallahu a‘lam. (Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH Taufik Damas)