::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Soal Pejudo yang Terdiskualifikasi karena Jilbab, Ini Respons MUI

Selasa, 09 Oktober 2018 21:45 Nasional

Bagikan

Soal Pejudo yang Terdiskualifikasi karena Jilbab, Ini Respons MUI
Foto: Kemenpora
Jakarta, NU Online
Beberapa hari terakhir Miftahul Jannah menjadi pusat perhatian di Asian Para Games setelah terdiskualifikasi dari ajang tersebut karena menolak lepas jilbab. Atlet judo asal Aceh itu gagal ikut bertanding di laga blind judo kelas 52 kilogram putri lantaran wasit melarangnya karena dianggap melanggar aturan, yakni mengenakan penutup kepala (jilbab). 

Merespons hal ini, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, pihak penyelenggara semestinya mengubah peraturan yang dinilai tidak menjamin hak pemain yang memiliki latar belakang berbeda –terlebih agama.

“Saat aturan tak lagi menjamin hak pemain tentunya harus diubah,” kata Kiai Cholil kepada NU Online via pesan singkat, Selasa (9/10).

Menurut Kiai Cholil, peraturan yang diterapkan dalam sebuah cabang olah raga tertentu seharusnya tidak menghalangi hak asasi pemain. Mengapa? Karena setiap pemain tentu memiliki hak asasi dan prinsip dasar dalam hidup yang tidak bisa ganggu gugat, termasuk urusan jilbab. Baginya, hak asasi pemain harus dihormati. 

“Sehingga tak menghalangi hak asasi masyarakat yang menekuni olahraga itu,” lanjutnya.

Lebih dari itu, Kiai Cholil mendukung usulan Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) RI yang meminta Federasi Judo Internasional (IJF) untuk melonggarkan aturan pelarangan penutup kepala. Yakni memperbolehkan penggunaan jilbab dengan disain khusus.

“Mendukung langkah Kemenpora, mengubah aturan yang melarang Jilbab dengan disain Jilbab yang tak membahayakan kepada pemain,” jelasnya.

Sebelumnya, Kemenpora RI Imam Nahrawi meminta IJF agar mengubah dan melonggarkan larangan penutup kepala dalam cabang olah raga judo. Ia juga mengusulkan agar IJF memperbolehkan penggunaan jilbab dengan disain yang tidak membahayakan pemain.

"Semoga ini juga menjadi masukan kepada IJF agar ada hijab yang dimodifikasi dan dipakai oleh para pejudo kita. Kemudian ada opsi, boleh ada jilbab yang menutup rambut ke telinga sampai ke belakang," kata Imam dalam konferensi pers di Jakarta di Main Press Center Asian Para Games 2018, Selasa (9/10). 

Di cabang olah raga judo, ada aturan yang tidak membolehkan atletnya mengenakan jilbab karena alasan keamanan. Jika ada atlet yang tetap mengenakan jilbab, maka konsekuensinya adalah didiskualifikasi. (Muchlishon)