::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok

Rabu, 10 Oktober 2018 13:30 Fragmen

Bagikan

Ketika Mbah Muqoyyim Dirikan Setu Patok
Tirakat Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren (ist)
Sungai-sungai mengalir ke hilir yang sempit. Saat air melimpah, muara tak lagi menampung sehingga menimbulkan bah. Ia menggenangi sawah dan perkampungan yang keberadaannya berdekatan. Hal ini terjadi berulang kali di sebuah daerah di Cirebon sehingga menarik tokoh setempat, Ki Entol Rujitnala, membuat sayembara. Siapapun yang berhasil mengatasi permasalahan tersebut, ia akan dinikahkan dengan putrinya, Nyai Randu Lawang.

Mbah Muqoyim terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Tentu bukan semata ingin mendapat putri Ki Entol, tetapi membantu mereka yang terus-terusan mendapat musibah agar dapat kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Meskipun demikian, dengan ketawadhuannya, pendiri Pondok Buntet Pesantren itu mengajukan syarat agar Ki Entol juga menemaninya dalam membuat solusi tersebut. Keduanya berjalan mengitari suatu tempat. Di setiap ujungnya, dipasang sebuah patok. Setiap pemasangan itu, mereka berdoa.

Air pun tak lagi keluar menggenangi pemukiman lagi. Ia tertampung pada tanah yang sudah diberi patok itu. Saat ini, tanah tersebut sudah dibangun sebuah situ yang dinamai Setu Patok mengingat dibangun dengan mengandalkan patok.

Sebelumnya, Ki Entol telah berkali-kali berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan membuat bendungan. Namun usahanya belum berhasil sampai akhirnya diatasi bersama dengan Mbah Muqoyim.

KH Ade Nasihul Umam saat menceritakan legenda ini kepada penulis mengungkapkan tiga pelajaran penting dari dua tokoh tersebut. Pertama, dalam setiap gelaran sayembara menjadi ajang untuk menghilangkan kesombongan. Sebab, pembuat sayembara mesti bukanlah orang sembarangan yang memiliki kekuatan lebih.

Sayembara membuat penyelenggaranya merasa bahwa dirinya tidak lebih kuat ketimbang siapapun yang dapat mengatasi problematika yang tak dapat ia atasi sendiri.

Namun, bukan seorang ulama jika ia tak tawadlu. Mbah Muqoyyim juga enggan menyombongkan diri dapat menjawab tantangan itu sekaligus menunjukkan diri sebagai orang yang lebih kuat. Tidak demikian. Untuk menghapus pikiran itu, ia enggan sendirian dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Justru, ia meminta penyelenggara, Ki Entol, untuk membantunya. Hal ini agar Mbah Muqoyyim tidak merasa bahwa ia sendiri yang membuat situ itu.

Di samping itu, hal lain yang hampir tak pernah alpa dalam setiap sayembara adalah hadiah bagi yang dapat melaksanakannya berupa pernikahan dengan putri penyelenggara. Mbah Muqoyyim pun dinikahkan dengan Nyi Randulawang yang juga dikenal sebagai Nyi Pinang.

"Ada dua tujuan sayembara, littazwij dan menghilangkan kesombongan," kata Kiai Ade pada Ahad (6/10) lalu. (Syakir NF)