::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Alsyami Ungkap Pola Pergerakan Men-Suriah-kan Indonesia

Jumat, 02 November 2018 09:55 Nasional

Bagikan

Alsyami Ungkap Pola Pergerakan Men-Suriah-kan Indonesia
Kondisi Suriah (Foto: istimewa)
Jakarta, NU Online
Pola-pola pergerakan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara porak-poranda seperti negeri Suriah (Syria/Syam) nampak ketika gerakan-gerakan tersebut menimbulkan kegaduhan dan kekacauan dengan berlindung di balik panji-panji agama.

Pola pergerakan tersebut diungkap oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami). Menurut Sekretaris Jenderal Alsyami M. Najih Arromadloni, pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya terlihat dari beberapa hal.

“(Di antaranya melakukan) politisasi agama, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah, pembunuhan karakter ulama, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara,” ungkap Najih dikutip NU Online, Jumat (2/11) lewat twitternya.

Dengan menyematkan tagar #JanganSuriahkanIndonesia, alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus ini menyatakan, gerakan pro-kekerasan tersebut sesaat memikat, dibungkus simbol-simbol agama. Kekerasan, mereka sembunyikan dibalik kedok ayat dan hadits, yang ditafsiri dan dipahami sesuai selera mereka.

“Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Berusaha memperluas kekacauan, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi,” beber Najih.

Dia melontarkan sebuah pertanyaan, adakah yang pernah menghitung berapa kali Masjid Istiqlal diduduki apel demonstrasi? Pelaksanaannya pun di hari Jumat seusai Jumatan. Didahului dengan hujatan politik di mimbar khotbah, sehingga mengelabui pandangan masyrakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan.

“Jumat hari ibadah, menjadi hari-hari politik dan kecemasan, dengan kekhawatiran terjadinya chaos. Jumat Kemarahan sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jumat terjemahan Jumat al-Ghadab yang menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan Al-Qardhawi, tokoh IM,” ungkap Najih menjelaskan apa yang terjadi di Suriah.

Tidak ingin Indonesia yang damai menjelma menjadi negara terpuruk seperti Suriah, Alsyami menggelar seminar kebangsaan bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia..! pada Kamis (1/11) malam di Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Syekh Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus, Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Djoko Harijanto (Dubes RI untuk Suriah), Ziyad Zahruddin (Dubes Suriah untuk Indonesia), Ahmad Fathir Hambali (Ketua Alsyami), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan Ainur Rofiq (mantan petinggi HTI). (Fathoni)