::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Dua Hal yang Sering Dilupakan Generasi Bangsa

Selasa, 06 November 2018 01:00 Daerah

Bagikan

Ini Dua Hal yang Sering Dilupakan Generasi Bangsa
Wakil Katib PWNU Jateng, KH Nasrulloh Afandi (kanan)
Jepara, NU Online
Untuk menjadi generasi cinta NKRI yang berkualitas, khususnya generasi NU dan generasi bangsa pada umumnya, agar tidak sering lupa, perlu melihat kembali sejarah awal sebelum berdirinya NU, yang mendahulukan cinta tanah air dan intelektualitas. 

Demikian disampaikan oleh Wakil Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Nasrulloh Afandi, dalam acara pelatihan untuk pelatih yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jepara, 1-4 November di Bangsri Jepara.

“Mbah KH Wahab Hasbullah, tutur Gus Nasrul, sapaan akrabnya, sebagai sang inisiator berdirinya NU, ketika beliau baru kembali ke tanah Air usai menimba Ilmu dari Makkah, pertama kali yang di didirikan oleh beliau tahun 1916 adalah gerakan bernama 'Nahdlatul Wathon' (Kebangkitan Tanah Air)," ungkapnya.

Dikatakan, sebagai upaya menanamkan cinta tanah air kepada publik, lanjut Doktor Maqashid Syariah Alumnus Universitas al-Qurawiyin Maroko itu adalah bentuk ekspresi mbah Kiyai Wahab bahwa dalam membangun generasi bangsa harus mendahulukan cinta tanah Air.

Seiring waktu, kemudian Mbah Kiai Wahab Hasbullah, mendirikan forum bernama 'Tasywirul Afkar', sebagai media pengembangan intelektualitas (1919).

Menurut Nasrulloh, dua gerakan di atas merupakan cikal-bakal berdirinya NU organisasi terbesar di dunia. “Dapat disimpulkan bahwa cinta tanah air dan intelektualitas adalah dua pilar utama yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun suatu bangsa dan negara, karena generasi yang punya rasa cinta tanah Air, tapi jika tanpa intelektualitas, tentu kurang berperan," jelas kiai yag juga aktif di ISNU Jateng itu.

Nasrullah mengatakan, di antara resikonya generasi tanpa intelektualitas memadai, adalah mudah saling caci-maki, saling hujat, saling fitnah di medsos. "Bahkan mungkin bisa terjebak oleh gerakan fundamentalis politisasi simbol-simbol agama atas nama bela negara.

"Begitu juga generasi muda yang punya bekal intelektualitas, tanpa didahului dengan cinta tanah air, maka akan mudah bergabung dengan terorisme,” pungkas kiai muda yang juga menantu Pengasuh Pesantren Balekambang Jepara itu. (Red: Muiz)