::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kuliah Umum di Uinsa: Saatnya Isi Media dengan Konten Kebaikan

Kamis, 08 November 2018 18:00 Nasional

Bagikan

Kuliah Umum di Uinsa: Saatnya Isi Media dengan Konten Kebaikan
Ustadz Yusuf Suharto di hadapan peserta kuliah umum di Uinsa Surabaya.
Surabaya, NU Online
Untuk mencapai kebahagiaan, mutlak dihajatkan akhlak mulia. Akhlak mulia itu adalah empat  daya utama. Ada empat induk keutamaan, yaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (syajaah), pemeliharaan diri (‘iffah), dan keseimbangan (‘adalah). 

Kebijaksanaan adalah moderasi kekuatan akal, keberanian adalah moderasi kekuatan nafsu amarah, pemeliharaan diri adalah moderasi kekuatan atau daya syahwat, dan moderasi ketiganya disebut tawasuth, atau proposional.

Sejumlah materi tersebut disampaikan Ustadz Yusuf Suharto pada kuliah umum  dengan tema Menjawab Problematika Dakwah di Era Milenial dalam Bingkai Psikologi. Kegiatan diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, Kamis, (8/11).

Mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini kemudian mengutip surat An-Nahl ayat 125. “Hikmah dalam ayat ini bisa bermakna ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan,” katanya. 

Dalam  pandangan pengurus Aswaja NU Center Jatim ini, maksudnya adalah mengajak dengan ilmu, dan bukan dengan kebodohan. “Karena dengan ilmu, maka pendakwah selalu hati-hati dalam menyampaikan, sehingga tidak terjerumus dalam hoaks,” ungkapnya di hadapan sejumlah peserta.

Di akhir paparannya, Ustadz Yusuf mengajak semua kalangan untuk tetap istikamah ber-Aswaja, dalam makna tidak menyimpang (bergeser) dari manhaj fikir tawasuth (moderat), dan tasamuh (toleran). "Juga beramar makruf nahi munkar dengan cara yang elegan," tegasnya.

Sementara KH Ali Aziz menegaskan bahwa pendakwah itu idealnya adalah sosok alim yang juga mutaallim. “Tatangan kita adalah bahwa masyarakat sekarang itu kritis. Sehingga perlu pendakwah yang terpelajar dan pembelajar,” ungkap guru besar Uinsa Surabaya tersebut

Menurutnya, pendakwah adalah seorang alim (terpelajar) sehingga bisa menjawab pertanyaan masyarakat. “Juga mutaallim yakni pembelajar sehingga memosisikan kesetaraan,” ujarnya.

Narasumber kuliah umum berikutnya yakni Hakim Jayli mensistematisasi pemaknaan an-Nahl 125. “Hikmah itu bisa bermakna konten dakwah yang inspiratif,” kata Direktur TV9 tersebut. 

Mauidlah hasanah, dalam pandangan Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim  itu bermakna bahwa konten dakwah harus instruksional. “Sedangkan wajadilhum itu dialog atau  meyakinkan orang lain dengan argumentasi yang tak terbatahkan,” urainya. 

Menurut Hakim, saat ini tidak sebaiknya berdiam diri. “Diam itu emas, tapi ada yang lebih penting dari emas, yaitu intan. Dan sabar itu adalah intan. Tentu sabar itu bukan pasif,” katanya.

Di era sekarang, tidak cukup berbekal benar, karena bersama kebenaran itu butuh kesabaran. “Banyak sekali orang yang benar tapi tidak sabar. Kalau tidak sabar, Walisongo dan ulama tidak bisa mengislamkan budaya Nusantara,” ungkapnya.

Di akhir paparannya, Hakim mengajak semua kalangan untuk memenuhi media dengan konten kebaikan. “Biarlah orang yang zalim itu sibuk dengan sesama yang zalim lainnya,” ujarnya seolah mengurai Shalawat Asyghil yang sedang populer.

Menurutnya TV9 adalah wayang masa kini. "Yang kita Islamkan itu adalah budayanya,” pungkasnya.

Kuliah ini tidak hanya diikuti peserta dari Uinsa, juga tampak dosen dan mahasiswa dari sejumlah kampus di Surabaya dan kota lain seperti dari Institut Pesantren KH Abdul Chalim (Ikhac) Mojokerto. (Ibnu Nawawi