::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Hariri, yang Menyingkir dari Ingar Bingar Politik

Senin, 12 November 2018 20:10 Tokoh

Bagikan

Kiai Hariri, yang Menyingkir dari Ingar Bingar Politik
KH Ach Hariri Abdul Adhim bersama Kiai Moqsith Ghazali. Sumber Istimewa
Oleh Abdul Moqsith Ghazali*

Tubuhnya agak tinggi, berkulit kuning langsat. Cenderung pendiam. Lebih banyak mendundukkan kepala, baik ketika duduk maupun ketika berdiri dan berjalan. Jika kepalanya tegak, maka pandangannya menyapu semua yang di sekitar; mulai dari dedaunan pohon yang jatuh di halaman hingga santri-santri yang lalu lalang karena suatu urusan. Usai memandang ke sekitaran, biasanya ia akan menguasap muka dengan tangan kanannya lalu terdengar iringan suara lirih dari lisannya, “Allah”, “Allah Karim”, “Ya Allah”. 

Itulah Kiai Ach Hariri Abdul Adhim, mudir Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Beliau adalah satu dari banyak kiai pesantren yang menghindar dari ingar bingar politik dan memilih menepi; menjadi seorang pendidik (murabbi) dan pengajar (mu’allim). Karena sikapnya itu, nama Kiai Hariri jarang muncul dalam percakapan politik, baik percakapan politik lokal apalagi politik nasional. Ia lebih banyak dikenal di lingkungan terbatas terutama santri-santri dan alumni Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. 

Saya sendiri mengenal Kiai Hariri (dulu dipanggil Lora Hariri) sudah cukup lama. Bermula ketika beliau menjadi ustadz saya di Madrasah Aliyah Sukorejo. Di Madrasah, beliau mengajari saya Ilmu Mantiq. Sedangkan di pengajian informal, Kiai Hariri adalah satu dari beberapa kiai yang mengajari saya kitab Ibnu Aqil. Sebelum mondok di Pesantren Sukorejo, saya mengaji kitab Ibnu Aqil pada kakek saya, Kiai Syarfuddin Abdusshomad, hingga 400 bait Alfiyah. Tiba di Pesantren Sukorejo, saya mengaji Ibnu Aqil pada Kiai Abdul Wahid Thoha, Kiai Hariri Abdul Adhim, hingga kemudian tuntas di tangan seorang alim, Kiai Ahmad Baihaqi (Bindung).

Para guru gramatika bahasa Arab di mana pun punya peran penting dalam proses formasi intelektualitas santri. Para guru itu adalah jembatan yang menghubungkan santri dengan dunia keilmuan Islam yang luas. Melalui mereka, para santri tidak hanya mengerti asal usul kata dan kedudukan kalimat, tetapi juga akan bisa menelusuri makna dan menangkap pengertian kitab-kitab gundul yang tak bersyakl dan tak berparagraf itu. Ilmu gramatika bahasa Arab yang diajarkan mereka menyebabkan saya misalnya tersambung pada karya-karya utama para genius raksasa seperti Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ramli, dan lain-lain. Saya tak bisa membayangkan perjalanan intelektualitas saya tanpa peran dan keterlibatan mereka.

Kecuali kakek saya yang kini sudah berusia 94 tahun, guru-guru yang mengajari saya kitab Ibnu Aqil sudah tidak ada. Satu demi satu mereka dipanggil Allah. Rabu Pagi, 5 November 2018, saya kaget membaca informasi bahwa KH Hariri Abdul Adhim sudah “tidak ada”. Saya tercekat, tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba, ingatan saya terbawa jauh ke belakang ketika puluhan tahun silam saya pertama kali berjumpa dan mengaji ilmu-ilmu rasional seperti Mantiq dan Ibnu Aqil pada beliau, Kiai Hariri.

Mengajar dan Tirakat 
Banyak yang bertanya, di mana Kiai Hariri belajar kitab kuning hingga beliau mencapai derajat alim? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Sebab, sekiranya kita melihat latar belakang pendidikan Kiai Hariri, maka jelas itu tak meyakinkan untuk mengantarkan yang bersangkutan sebagai seorang alim. Tak seperti kiai lain yang sejak dini sudah belajar kitab kuning di pesantren, Kiai Hariri menyelesaikan SD, SMP, dan SMA-nya di luar pesantren. Ia baru masuk pesantren ketika kuliah di IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Itu pun kuliah di Fakultas Dakwah bukan di Fakultas Syariah, tempat para mahasiswa  belajar ilmu-ilmu pokok Islam seperti ushul fikih, tafsir ahkam, dan lain-lain. 

Sejauh yang saya perhatikan, pelajar Islam yang masuk pesantren setelah lulus SMA rata-rata sulit membaca dan menguasai kitab kuning dengan baik. Tapi, Kiai Hariri sebuah pengecualian. Pengetahuannya tentang kitab kuning--meminjam pepatah Romawi--crescit in eundo; bertumbuh sambil berjalan, belajar sambil mengajar. Dengan kecerdasan dan ketekunan yang “ekstrem”, akhirnya Kiai Hariri bisa membaca kitab kuning dengan baik. Terbukti, Kiai Hariri pernah mengajarkan kitab Ibnu Aqil di Mushalla Ibrahimy Pesantren Sukorejo. Dan setiap bulan Ramadhan,di lokasi yang sama, beliau membacakan kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi.

Ketika Ma’had Aly Sukorejo Situbondo didirikan, Kiai As’ad Syamsul Arifin mengangkat Kiai Hariri sebagai pemangku asrama Ma’had Aly hingga kemudian menjabat sebagai direktur Ma’had Aly menggantikan Alm. Kiai Abdul Wahid Zaini. Namun, tak seperti sebelumnya, di Ma’had Aly Kiai Hariri tak lagi mengajar ilmu gramatika bahasa Arab dan Mantiq. Ia memasuki disiplin ilmu baru, yaitu tasawuf. Ia mengajarkan tasawuf al-Ghazali melalui karyanya Ihya’ Ulum al-Din. 

Bertahun-tahun beliau mengajarkan kitab itu itu hingga penguasan Kiai Hariri tentang tasawuf al-Ghazali cukup memadai. Tak hanya membaca karya-karya Imam Ghazali, beliau juga rupanya membaca karya para sufi lain. Ketika berkunjung ke rumahnya kita bukan hanya akan disuguhi teh dan kue melainkan juga nasehat-nasehat sufistik para sufi seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Atha’illah al-Sakandari, dan lain-lain.

Perhatian dan ketekunannya pada ilmu tasawuf menyebabkan Kiai Hariri tampil sebagai seorang kiai yang pengasih. Kasih sayangnya bukan hanya akan dirasakan para santri yang tinggal di asrama Ma’had Aly melainkan juga oleh para tamu yang datang, para tetangga sekitar pesantren bahkan hingga binatang. Sudah menjadi cerita lama di lingkungan santri Ma’had Aly, Kiai Hariri pernah marah pada seorang santri yang membunuh nyamuk dengan raket listrik yang mematikan itu. Kiai Hariri menegaskan, “sebagaimana kita, nyamuk punya hak hidup juga”.

Dengan tasawuf, diksi yang terlontar dari lisannya adalah kelembutan bukan kekerasan. Zikirlah yang melembutkan hatinya. Mengajar, shalat dan zikir adalah aktivitas kesehariannya. Kiai Hariri jarang ke luar rumah apalagi pergi jauh hingga luar kota. Jika terpaksa harus menghadiri sejumlah acara, beliau lebih banyak berdoa ketimbang berceramah. Para supir yang menyertai kepergiannya ke luar pesantren kerap bercerita bahwa dalam mobil pun, Kiai Hariri jarang bicara. Kepalanya lebih banyak tertunduk, membaca shalawat dan berzikir mengingat Allah.

Itu sebabnya, bagi komunitas Ma’had Aly Sukorejo, Kiai Hariri bukan hanya seorang mudir atau direktur yang bertanggung jawab penuh pada semua proses pembelajaran di lembaga kaderisasi ahli fikih itu. Jika Kiai Afifuddin Muhajir dianggap sebagai jangkar intelektual Ma’had Aly Sukorejo, maka Kiai Hariri adalah penyangga spiritualnya. Kiai Hariri menghabiskan hari-harinya untuk “riyadhah” dan “tirakat”; mendoakan santri-santrinya agar kelak menjadi orang alim yang bermanfaat. Semoga doa-doa Kiai Hariri akan dikabulkan Allah, sehingga santri-santri Ma’had Aly menjadi ahli fikih yang mumpuni dengan akhlak yang terpuji.

Penutup
Setiap kiai atau ulama memiliki keistimewaan sendiri-sendiri termasuk Kiai Hariri. Karena itu, satu kiai tak boleh diqiyaskan pada kiai lain. Allah SWT mengunggulkan satu ulama pada satu bidang, dan mengunggulkan ulama lain pada bidang lain. Tak hanya pada para ulama, Allah SWT juga melakukan hal yang sama untuk para nabi dan rasul. Allah SWT berfirman, tilka al-rusul fadhdhalna ba’dhahum ‘ala ba’dhin (Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain).

Begitu juga, sekiranya Allah melarang kita membeda-bedakan satu rasul dengan rasul lain sebagaimana dalam firman-Nya, “la nufarriqu bayna ahadin minhum’ (Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka--rasul-rasul Allah), maka seyogyanya kita juga tak membeda-bedakan antara satu kiai dan kiai lain. Jika Kiai Hariri memiliki maziyyah sendiri, maka kiai lain memiliki maziyyah yang lain lagi.

Selamat Jalan, Kiai Hariri. Ulama seperti panjenengan wafat hanya sekali tapi akan hidup berkali-kali melalui reproduksi ilmu oleh para santri panjenengan yang terus berjalan tanpa henti.[]

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua LBM PBNU, dan Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo Jawa Timur.