::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Beda Pendidikan Karakter Dulu dan Kini Menurut Menteri Agama

Selasa, 13 November 2018 13:45 Nasional

Bagikan

Beda Pendidikan Karakter Dulu dan Kini Menurut Menteri Agama
Menag Lukman Hakim Saifuddin (Foto: Kemenag)
Bekasi, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa pandangan mengenai karakter dan penerapannya bisa jadi berbeda antara zaman dulu dana sekarang. Ia lebih menekankan pada substansi karakter, bukan bentuk perilaku yang selama ini dipahami.

Bagi Menag Lukman, dulu dirinya dididik orang tua kalau di meja makan ya makan, di meja makan tidak boleh berbincang, bertanya itu, bertanya ini.

Dia juga dulu dididik dengan orang tua agar ketika berbicara dengan orang yang dituakan tidak boleh menatap matanya, karena menatap orang yang dituakan seperti hedak berkelahi.

“Saya tidak mungkin lagi menerapkan nilai-nilai yang dulu dari orang tua saya, untuk diterapkan kepada anak saya. Karena ada orang yang mengatakan, justru berbincang dengan menatap mata, tanda menghargai. Di meja makan justru tempat yang efektif untuk membicarakan sesuatu,” jelas Menag beberapa waktu lalu di Bekasi.

Menag mengutarakan, apakah itu esensi dari karakter itu sendiri. Anak-anak kita tidak seperti itu lagi. Apakah itu menjadikan anak-anak kita menjadi tidak beretika, berkarakter. Apakah dalam bentuk fisik-fisik seperti itu.

Menurutnya, nilai itu ada esensinya ada substansinya. Yang harus dipertahankan adalah integritas. Karakter ini mirip dengan karakter berisi hal-hal positif yang esensial.

“Misal jujur, jujur apa adanya, tidak dikurangi tidak dilebihkan, tidak meniup, tidak manipulatif, esensi nilai karakter ialah menghormati orang tua,” ujar Menag.

“Bagaimana penghormatan saat ini? Bisa jadi tidak sama. Antara saat ini dan dulu. Kita sebagai pendidikan, mana esensi nilai yang berasal dari leluhur dan mana yang bersifat budaya,” imbuhnya. (Fathoni)