::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Anak Harus Dididik agar Tak Hanya Shaleh Spiritual, Tapi...

Rabu, 14 November 2018 05:45 Nasional

Bagikan

Anak Harus Dididik agar Tak Hanya Shaleh Spiritual, Tapi...
Ilustrasi (ist)
Bekasi, NU Online
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, umat Islam dalam beragama tidak cukup hanya memaknai syariat, tetapi juga mesti memahami hakikat. Contoh tampilan artifisial (kulit). Menurutnya hal itu budaya antara umat yang satu dengan umat yang lainnya.

“Anak-anak harus ditanamkan ibadah-ibdah praktis. Pendidikan kita belum masuk ke ranah substansi. Mudah ditemukan ketika seorang shalat, tetapi masih korupsi, melakukan manipulasi, atau tindak kekerasan untuk sesuatu yang tidak beralasan,” ujar Menag, Ahad lalu di Bekasi, Jawa Barat.

Dia menjelaskan, orang bisa shaleh spiritual tetapi juga bisa berperilaku asosial. Ibadah haji itu untuk kepedulian sosial, menebarkan salam agar lingkungan damai. “Mabrur itu dia semakin peduli dengan lingkungan sosial, mendatangkan kedamaian,” terangnya.

Perkara ada kertesendatan, menurut Menag, itu karena lebih menitiktekankan syariat, belum hakikat. Padahal Islam hadir untuk sosial. Ibadah se-individu apa pun, jangan berhenti di syariatnya saja.

“Jangan menganggap berislam itu hanya syariat, berislam itu menjalani syariat untuk mencapai hakikat,” ucapnya.

Menurut menag, cara sebagian orang dalam beragama kadang eksklusif. Mendalami Islam itu mendalami teks. Tetapi jangan hanya medewakan teks sehingga kehilangan konteks. “Maka lalu sampai pada pemahaman ekstrem radikal,” tuturnya. (Fathoni)