::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mana Lebih Baik, Umur Panjang atau Pendek?

Sabtu, 24 November 2018 16:30 Ubudiyah

Bagikan

Mana Lebih Baik, Umur Panjang atau Pendek?
Ilustrasi (iStock)
Jika sebuah pertanyaan diajukan manakah yang lebih baik, umur panjang ataukah umur pendek? Jawabannya, sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la. Jawaban ini berdasarkan penjelasan dari Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 47) sebagai berikut: 

وخير العمر: بركته، والتوفيق فيه للأعمال الصالحة، والخيرات الخاصة والعامة 

Artinya: “Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum.”

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanu wata’la, yang diberi-Nya bimbingan untuk melakukan berbagai kesalehan dan kebajikan. Penjelasan ini tidak mensyaratkan umur panjang dalam arti harfiah sebagaimana dipahami sebagian orang dari apa yang disampaikan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya sebagai berikut:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 
 
Baca juga: Bolehkah Berdoa Memohon Kematian?
Beberapa orang memahami secara literal bahwa umur yang baik adalah umur panjang yang penuh dengan kebaikan. Pemahaman ini memang tidak salah, hanya belum akomodatif terhadap fakta bahwa banyak orang saleh tidak berumur panjang. Orang-orang seperti ini meskipun tidak berumur panjang, namun amal-amal kebaikannya sangat banyak. Beberapa di antara mereka amal kebaikannya setara atau bahkan ada yang memelibihi mereka yang berumur panjang. 

Sayyid Abdullah Al-Haddad menyebutkan contoh beberapa orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya terbukti sangat banyak dan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Di antaranya adalah Imam Syafií rahimahullah yang wafat dalam usia 54 tahun. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali wafat dalam usia 55 tahun. Al-Imam al-Quthub as-Syarif Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus al-Alawi wafat dalam usia 54 tahun. Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia kurang dari 40 tahun. Imam Nawawi wafat dalam usia kurang dari 50 tahun. 

Jadi sebaik-baik umur adalah umur yang diberkati Allah subhanu wata’la. Umur yang diberkati adalah umur yang benar-benar panjang secara harfiah dan banyak digunakan untuk melakukan amal-mal saleh dan kebajikan-kebajikan lainnya. Atau umur yang tidak panjang secara harfiah, namun banyak digunakan untuk mengerjakan kesalehan-kesalehan hingga pada tingkat tertentu yang setara atau malahan lebih banyak dari mereka yang berumur panjang. 

Terhadap kelompok kedua, yakni mereka yang tidak berumur panjang namun banyak mengerjakan kesalehan-kesalehan dan kebajikan-kebajikan seperti Imam Syafi’i dan Imam Al-Ghazali, Sayyid Abdullah Al-Haddad menyebutnya sebagai hamba-hamba Allah yang terpilih dan diberkati sehingga amal kebaikannya lebih banyak dan lebih terasa manfaatnya dari pada yang dipanjangkan umurnya. 

Mengenai batasan umur panjang (a’mârun thawîlah) di kalangan umat Islam, memang tidak ada patokan khusus yang telah disepakati bersama. Hanya kebanyakan umat Islam menjadikan umur Rasulullah  shallahu alaihi wa sallam yang mencapai 63 tahun sebagai standar. Artinya mereka yang mencapai umur di atas 63 tahun diyakini telah mendapatkan bonus umur dari Allah subhanu wata’la. Sedangkan mereka yang tidak mencapai umur 63 tahun, semisal 50-55 tahun, sebagaimana para imam di atas dikategorikan berumur pendek (a’mârun qashîrah). Istilah ini sebagaimana dipergunakan Sayyid Abdullah Al-Haddad dalam pembahasan topik ini. (Lihat hal. 47). 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.